Amerika Serikat dan Indonesia baru-baru ini mengumumkan pembentukan “kemitraan kerja sama pertahanan utama”. Para pengamat menilai, posisi Indonesia yang menguasai jalur energi global di Selat Malaka membuat kerja sama ini berpotensi menahan ekspansi PKT di Laut Tiongjo Selatan, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pasokan energi Beijing.
EtIndonesia. Pada 13 April, Menteri Perang AS Pete Hegseth bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumumkan di Pentagon bahwa kedua negara resmi menjalin kemitraan tersebut, dengan tujuan memperdalam kerja sama pertahanan dan menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Isi kerja sama mencakup pengembangan bersama kemampuan perang asimetris canggih, termasuk teknologi generasi berikutnya di bidang laut permukaan, bawah laut, dan sistem tanpa awak.
Peningkatan kerja sama ini disebut membuat Beijing khawatir, terutama karena Indonesia memiliki posisi geografis strategis yang mengontrol Selat Malaka—jalur vital yang menjadi penghubung antara Samudra Pasifik dan Hindia, sekaligus “urat nadi” bagi negara-negara Asia Timur.
Menurut data U.S. Energy Information Administration tahun 2025, sekitar 30% perdagangan minyak mentah laut dunia melewati Selat Malaka setiap hari.
Seorang analis militer menyatakan bahwa jika Indonesia sepenuhnya bekerja sama dengan AS, maka penutupan Selat Malaka bisa dilakukan dengan cepat, yang akan menjadi tekanan besar bagi PKT.
Ia menjelaskan bahwa Beijing sangat bergantung pada impor energi, terutama dari Timur Tengah, yang sebagian besar dikirim melalui Selat Malaka. Meskipun PKT telah membangun jalur pipa dari Rusia dan Asia Tengah, kapasitasnya terbatas sehingga jalur laut tetap menjadi andalan utama.
Perkembangan geopolitik terbaru juga memperburuk situasi. Dalam beberapa bulan terakhir, disebutkan bahwa pasokan minyak murah dari Venezuela terhenti, sementara konflik Iran juga mengganggu suplai energi dari Timur Tengah.
Seorang analis strategi militer dari Taiwan, Su Tzu-yun, menyatakan bahwa perubahan tatanan internasional saat ini berfokus pada Iran. Ia menilai bahwa dengan berbagai tekanan di kawasan lain, jika jalur Iran juga tertutup, maka upaya “pengepungan” terhadap PKT akan semakin lengkap.
Di tengah konflik AS–Iran yang masih berlangsung, AS juga bergerak cepat memperkuat kerja sama pertahanan dengan Indonesia, yang dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan tekanan terhadap Beijing di kawasan Selat Malaka dan Laut Tiongkok Selatan.
Menurut Su, kerja sama ini memungkinkan militer AS menggunakan wilayah udara Indonesia untuk mempercepat pergerakan menuju Laut Cina Selatan atau Selat Malaka, serta mempermudah dukungan militer dari Australia ke arah utara.
Selama bertahun-tahun, PKT dituduh memperluas pengaruhnya di Laut Tiongkok Selatan. Hal ini mendorong negara-negara di kawasan untuk semakin mempererat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat demi keamanan.
Seorang analis menyebut, semakin erat kerja sama militer antara negara-negara kawasan dengan AS, semakin besar pula tekanan terhadap PKT, sehingga upayanya menjadikan Laut Tiongkok Selatan sebagai “wilayah internal” akan semakin sulit.
Bagi Indonesia sendiri, klaim “sembilan garis putus-putus” Tiongkok juga mencakup wilayah Zona Ekonomi Eksklusif di sekitar Kepulauan Natuna, yang memicu sengketa kedaulatan dan perikanan antara kedua negara.
Awal bulan ini, melayan Lombok juga menemukan perangkat yang diduga drone bawah laut di dekat Selat Lombok. Pada perangkat tersebut terlihat jelas logo China Shipbuilding Industry Corporation serta tulisan dalam bahasa Mandarin sederhana.
Disunting oleh Li Qian; Wawancara oleh Chang Chun; Pasca-produksi oleh Gao Yu





