EtIndonesia. Perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran tinggal tiga hari lagi sebelum berakhir. Kedua pihak dijadwalkan kembali berunding pada Senin (20 April). Namun di saat krusial ini, Iran kembali melanggar kesepakatan dengan menutup Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump pada pagi 19 April mengkritik langkah tersebut, tetapi mengatakan bahwa tindakan itu tidak menguntungkan Iran.
Trump juga mengkonfirmasi pada sore hari bahwa Korps Marinir AS telah mencegat dan menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade Amerika.
Situasi AS–Iran berubah sangat cepat. Setelah Iran mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz, Trump mengecam bahwa tindakan tersebut sepenuhnya melanggar perjanjian gencatan senjata, dan banyak tembakan diarahkan ke kapal-kapal Prancis dan Inggris, yang dinilainya sangat tidak bersahabat.
Trump menyebut sikap Iran yang berubah-ubah sangat aneh. Ia menulis bahwa tanpa disadari Iran justru “membantu” Amerika. Penutupan selat membuat Iran merugi sekitar 500 juta dolar per hari, sementara AS tidak mengalami kerugian. Bahkan, banyak kapal kini justru menuju Amerika untuk memuat barang.
Ia juga mengumumkan bahwa delegasi AS akan tiba di Islamabad pada Senin malam untuk melanjutkan perundingan. Jika Iran tidak menerima kesepakatan, AS akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran, dan tidak lagi bersikap lunak.
Perjanjian gencatan senjata kedua negara dijadwalkan berakhir pada Rabu (22 April).
“Mungkin saya tidak akan memperpanjang gencatan senjata. Blokade akan tetap berlanjut. Jadi kalian masih akan melihat blokade, tetapi sayangnya kami mungkin harus kembali menjatuhkan bom,” ujar Trump.
Di pihak lain, Iran juga menunjukkan sikap keras. Pada 18 April, Iran mengumumkan “pengawasan ketat” terhadap selat tersebut, membatalkan keputusan sehari sebelumnya untuk membukanya kembali, dan menuduh pihak AS melanggar kesepakatan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa perundingan harus didasarkan pada prinsip “komitmen dibalas komitmen”.
“Saat ini terdapat perbedaan dalam beberapa isu. Pihak AS memiliki pandangan tertentu terkait masalah nuklir, Selat Hormuz, dan isu serupa, sementara kami tetap berpegang pada posisi kami,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa sebelum negosiasi dilanjutkan, perlu dibahas terlebih dahulu isu Hezbollah dan pembekuan dana Iran. Jika tidak, Iran tidak akan menerima tuntutan AS, meskipun tetap bersedia untuk berkomunikasi dan berunding secara aktif.
Sumber : NTDTV.com





