jpnn.com - Analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) menyoroti pola komunikasi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Menurut Hensa, pola komunikasi Seskab Teddy menjadi bukti bahwa pemerintah mencoba dekat dengan rakyat.
BACA JUGA: DPN Peradi: Belum Ada Urgensi Untuk Revisi UU Advokat
Diketahui, Seskab berburu buku lawas di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (19/4).
Momen itu diabadikan dan diunggah oleh akun Instagram resmi Seskab @teddy_hq, memperlihatkan Teddy tengah memilah koleksi buku bekas di antara lapak-lapak pedagang.
BACA JUGA: Skandal Video Asusila Viral di Pamekasan Terungkap, Pelaku Masih Pelajar
"Tidak ada klaim macam-macam, tidak ada kalimat politis yang ditempel-tempel, cuma pergi beli buku di akhir pekan seperti orang kebanyakan. Kalau pola seperti ini yang terus dijalankan, ya, saya kira publik juga lama-lama akan merasakan bedanya," kata Hensa dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Hensa juga tidak memandang negatif kata "pencitraan." Baginya, membangun citra positif adalah bagian yang sah dari komunikasi publik seorang pejabat negara.
BACA JUGA: Merasa Difitnah soal Penistaan Agama, JK: Karena di Masjid Maka Saya Pakai Kata Syahid
Dia mengingatkan bahwa yang perlu dijaga adalah batasan dalam melakukan pencitraan tersebut.
"Saya selalu bilang, pencitraan positif itu bagian dari kerjaan pejabat publik, bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi. Yang bikin runyam itu kalau pencitraannya untuk kepentingan pribadi, bukan institusi. Dua hal itu kelihatannya mirip, tetapi bedanya cukup jelas kalau mau jujur melihatnya," tuturnya.
Hensa menilai dalam konten yang diunggah itu, Seskab Teddy hanya hadir sebagai seseorang yang menikmati hobinya di tempat yang sama dengan warga biasa.
Menurut dia, hal itu sudah cukup untuk membawa pesan dekat dengan rakyat.
Namun, Hensa mengingatkan bahwa satu unggahan positif belum cukup untuk mengubah persepsi publik secara permanen.
Dia menilai konsistensi adalah ujian sesungguhnya dari sebuah komunikasi publik.
"Saya tidak mau terlalu cepat bilang ini bagus, tetapi kalau pola seperti ini konsisten dijalankan, bukan cuma sekali lalu hilang, ya, kepercayaan publik itu akan terbentuk sendiri," ujarnya.(ant/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




