Iran Ingkari Kesepakatan, Kembali Tutup Selat Hormuz — Militer AS Tingkatkan Operasi, Akan Menyita Kapal Dagang

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seiring Iran kembali menutup Selat Hormuz, muncul laporan bahwa militer AS akan meningkatkan operasi dengan rencana menaiki dan menyita kapal dagang terkait Iran di perairan internasional dalam beberapa hari ke depan.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pejabat AS mengungkapkan bahwa militer AS sedang bersiap untuk menaiki kapal tanker yang terkait dengan Iran di perairan internasional dan menyita kapal tersebut.

Laporan itu menyebutkan bahwa langkah ini menunjukkan operasi maritim AS kini telah meluas melampaui kawasan Timur Tengah. Strategi tersebut bertujuan untuk menekan ekonomi Teheran, memaksa Iran membuka kembali selat, serta membuatnya berkompromi dalam perundingan nuklir.

Rencana ini muncul di tengah upaya Iran yang terus memperketat kontrol atas Selat Hormuz.

Pada Jumat (17 April), Iran sempat mengumumkan pembukaan selat, namun sehari kemudian (18 April) tiba-tiba mengubah sikap, dengan Islamic Revolutionary Guard Corps kembali menyatakan penguasaan atas selat tersebut. Hingga berita ini ditulis, setidaknya dua kapal dagang dilaporkan mengalami ancaman dan serangan saat melintasi selat.

Pihak Iran menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap blokade berkelanjutan oleh Amerika Serikat.

Saat ini, militer AS tetap mempertahankan pengawasan ketat terhadap kapal-kapal yang keluar masuk wilayah pesisir dan pelabuhan Iran.

United States Central Command menyatakan bahwa sejak dimulainya operasi blokade, sebanyak 23 kapal telah berbalik arah mengikuti instruksi militer AS.

CENTCOM juga beberapa kali merilis informasi mengenai operasi militer di laut Timur Tengah, termasuk patroli kapal tempur pesisir USS Canberra di Laut Arab, aktivitas di kapal pendarat USS Rushmore yang melibatkan pelaut dan marinir dalam operasi blokade, serta kapal perusak rudal USS Pinckney yang turut melakukan patroli untuk mendukung operasi tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pihak terkait menilai bahwa pemerintahan Donald Trump saat ini tampaknya menjalankan tiga operasi maritim secara bersamaan: selain melakukan blokade di sekitar Iran, juga menyita kapal “armada bayangan” di berbagai wilayah dunia, serta memperketat penindakan terhadap penyelundupan komponen rudal dan barang terlarang, sebagai bagian dari strategi “tekanan maksimum” terhadap Iran.

Sementara itu, pemimpin baru Teheran, Mojtaba Khamenei, meski jarang tampil di publik, menyatakan bahwa angkatan laut Iran siap memberikan “kekalahan baru yang menyakitkan” kepada musuh kapan saja. Namun sebelumnya, militer AS telah beberapa kali menyatakan bahwa di bawah serangan gabungan AS dan Israel, angkatan laut Iran telah mengalami kehancuran besar.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari AS


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seluruh WK Migas Aceh ‘Sold Out’, BPMA Bidik Pembukaan Blok Baru
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pangkalan AS di Uni Emirat Arab Kini Dinilai Jadi Beban, Bukan Aset
• 45 menit laludetik.com
thumb
Menperin Agus: Apple Secara Bertahap Jalankan Komitmen Investasi TKDN di RI
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kemensos dan Pemprov Sulteng Perkuat DTSEN untuk Pastikan Bansos Tepat Sasaran dan Dorong Pemberdayaan
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Gempa Magnitudo 6 Guncang Timor Tengah Utara NTT, Tak Berpotensi tapi Tetap Waspada
• 6 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.