Langit mendung menghalangi pendar cahaya matahari yang perlahan memudar di sudut Bukit Wairinding, Desa Pambota Jara, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Meski terhalang, cahaya tetap memantul ke punggung bukit yang menguning.
Langit mendung yang menutup senja itu tak memudarkan eloknya lekukan perbukitan Wairinding pada Jumat (10/4/2026). Bukit itu tampak bergerak zig-zag di antara keheningan.
Bukit yang menguning itu menjadi penanda masuknya musim kemarau di Sumba Timur. Meskipun demikian, sebagian besar bukit masih diselimuti rumput hijau di sana-sini.
Sabana Sumba memang tak ada duanya. Bagi masyarakat Marapu, kepercayaan leluhur masyarakat Sumba Timur, sabana tak sekadar himpunan perbukitan, melainkan penyangga kehidupan. Sabana menjadi padang penggembalaan ternak seperti kuda, sapi, kerbau, dan kambing.
Ternak-ternak itu menghidupi mereka dari generasi ke generasi, di mana hasil menjual ternak tak hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga membiayai sekolah anak. Ternak juga digunakan sebagai pelengkap ritus-ritus adat mereka, mulai dari pernikahan hingga kematian.
Artinya, nilai sabana dan ternak lebih dari sekadar uang. Sabana punya makna penting bagi budaya dan spiritualitas masyarakat Sumba. Di padang sabana yang luas, mereka melestarikan tradisi menunggang kuda, bukti keselarasan mereka dengan alam.
Kini, lokasi-lokasi perbukitan itu menjadi daya tarik wisata yang wajib dikunjungi jika ke Sumba Timur. Dari Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, hanya butuh 40 menit untuk ke Wairinding. Jalanan aspal membentang dari Waingapu hingga ke Desa Pambota Jara.
Sepanjang jalan, para pengunjung akan ditemani berbagai perbukitan dan hamparan sabana lainnya. Jaraknya hanya 30 kilometer (km) dari Waingapu, dan sekitar 10 km dari Patung Kuda di perbatasan Waingapu dan Pandawai.
Keheningan kemudian dipecah oleh canda tawa anak-anak penunggang kuda. Salah satunya Giovanni Pamber (14), murid kelas 7 di salah satu sekolah menengah pertama di Pandawai. Menggunakan bahasa daerah, ia sedang bergurau dengan salah satu turis asal Jakarta yang datang petang itu ke Wairinding.
Gio, sapaan karibnya, berbincang sambil memegang tali kekang kuda cokelat. Kuda milik Gio tampak gagah, badannya kekar. Rambutnya halus, ia sisir setiap hari. Empat kakinya mantap memijak tanah.
Pelananya sederhana, hanya bantal tipis yang dijahit menggunakan baliho bekas kampanye partai. Kata Gio, pelana itu dijahit sendiri oleh ibunya. “Semua anak di sini, dari belum sekolah sudah tahu naik kuda,” katanya.
Sore itu, Gio dan teman-temannya datang ke Wairinding dengan harapan mendapat uang. Sekadar melintas di jalan setapak Bukit Wairinding, turis bisa mengeluarkan uang sebesar Rp50.000 sekali naik. Untuk berfoto bisa Rp10.000 hingga Rp20.000.
Gio selalu tersenyum, namun di balik senyumnya itu ia berharap turis-turis tadi menyewa kudanya. Namun, apa mau dikata, rezeki belum datang ke kantongnya. Ia tak pulang, ia menunggu turis lain datang.
Begitu ada yang datang, Gio sigap mendekat. “Ayo, Kak, Rp50.000 saja. Tidak usah takut, saya yang pegang. Kakak tinggal naik lalu duduk saja,” katanya menawar.
Selagi Gio sibuk menawarkan jasa kuda, ada Stefani (12) yang datang bersama adiknya sambil menjinjing kain Sumba. Kain cokelat dengan motif hitam itu ia jual Rp 750.000 per kain.
Sama seperti Gio, Stefani berharap ada yang membeli kainnya. “Kalau mau sewa untuk foto juga bisa, Rp 20.000 saja, nanti saya yang fotokan,” ujar Stefani.
Hingga matahari benar-benar tenggelam dan angin dingin menusuk kulit, barulah anak-anak itu pulang ke rumah masing-masing.
Sebelumnya, pada Kamis (9/4/2026) pagi, Kompas mengikuti rangkaian acara “Menginspirasi Generasi Inovator” yang diluncurkan PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MR. D.I.Y. Indonesia) dan Yayasan Suka Sumba. Dalam acara itu hadir Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali.
Umbu mengungkapkan, angka putus sekolah masih tinggi, sedangkan angka literasi menurun. Banyak faktor yang memengaruhi hal itu, mulai dari akses sekolah yang begitu jauh dari permukiman hingga masih banyak anak-anak yang membantu orang tuanya bekerja.
Data dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT mencatat, setidaknya terdapat 145.268 anak yang tersebar di 22 kabupaten dan kota di NTT tidak sekolah. Di Sumba Timur, meski bukan yang tertinggi, terdapat 6.347 anak tidak sekolah.
“Anak-anak pulang sekolah harus membantu orang tuanya bekerja, pulang sekolah langsung ke ladang. Bahkan, masih ada orang tua yang memang tidak menyekolahkan anaknya agar membantu mereka bekerja,” kata Umbu.
Umbu menyadari masih banyak hal yang harus dibenahi dan Sumba Timur membutuhkan banyak pertolongan dari berbagai pihak. Saat ini, pihaknya berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar anak-anak hanya fokus pada pendidikan, bukan mencari uang.
Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Sumarjono Saragih mengungkapkan, dalam regulasi tidak boleh lagi ada anak di bawah umur yang bekerja. Namun, pada kenyataannya fenomena itu masih ditemukan hampir di setiap daerah dan terutama terjadi di sektor pekerjaan informal.
Sampai saat ini, kata Sumarjono, pekerja informal di Indonesia juga mendominasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebelum pandemi Covid-19, yakni pada Februari 2016, porsi pekerja informal mencakup 58,28 persen dari total penduduk bekerja.
Angka ini naik tipis menjadi 58,35 persen pada Februari 2017. Namun, kemudian mengalami penurunan berturut-turut menjadi 58,22 persen pada 2018, lalu 57,27 persen pada 2019, dan mencapai titik terendah pada 2020 dengan 56,64 persen.
Anak-anak pulang sekolah harus membantu orang tuanya bekerja, pulang sekolah langsung ke ladang
Pada Februari 2021, terjadi lonjakan signifikan porsi pekerja informal menjadi 59,62 persen yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh dampak pandemi Covid-19. Tren kenaikan berlanjut pada 2022 menjadi 59,97 persen dan mencapai puncaknya pada 2023 dengan 60,12 persen.
Setelah itu, porsi pekerja informal kembali menurun menjadi 59,17 persen pada Februari 2024. Kemudian, porsinya naik tipis pada Februari 2025 menjadi 59,40 persen.
Kenaikan porsi pekerja informal pada Februari 2025 dibanding Februari 2024, secara khusus, didorong oleh meningkatnya jumlah pekerja dengan status berusaha dibantu buruh tidak tetap (0,95 juta orang), pekerja dengan status berusaha sendiri (0,88 juta orang), dan pekerja bebas di nonpertanian (0,54 juta orang). (Kompas.id, 7 Mei 2025).
Sumarjono mengungkapkan, selama ini pemerintah sudah berupaya untuk melindungi pekerja informal dengan berbagai kebijakan di daerah. Namun, butuh kolaborasi banyak pihak agar sektor ini benar-benar diperhatikan.
“Solusinya bukan sosialisasi, tetapi negara harus hadir di sana. Masalahnya apa? Masalahnya hanya soal anggaran. Banyak daerah tidak memiliki anggaran yang cukup untuk melindungi mereka,” katanya saat dihubungi pada, Senin (20/4/2026).
Jika para pekerja informal diperhatikan dengan baik, kata Sumarjono, maka anak-anak yang dipaksa keadaan untuk bekerja bisa benar-benar dientaskan. BPJS Ketenagakerjaan, lanjutnya, hanya memiliki fungsi sebagai penyelenggara. Pihaknya selama ini berupaya untuk mendorong pemerintah agar bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha.
“Sosialisasi sudah pasti harus dilakukan, tetapi jangan berhenti di situ. Kami selama ini mendorong semua pihak untuk berkolaborasi, mulai dari komunitas, aktivis, pemerintah, dan pelaku usaha,” ungkapnya.
Bukit Wairinding memang indah dan elok. Sayangnya, di balik keindahan bukit itu, tersimpan segudang masalah yang belum juga usai.





