Penulis: Fityan
TVRINews, Jakarta
Menteri Pertanian menjamin ketahanan pangan nasional tetap kokoh di tengah ancaman kekeringan ekstrem fenomena Godzilla El Nino.
Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan penuh dalam menghadapi dampak anomali cuaca Godzilla El Nino.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ketersediaan pangan nasional berada pada level yang sangat aman, didorong oleh akumulasi cadangan beras yang mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah kedaulatan pangan tanah air.
Dalam keterangannya usai melakukan koordinasi dengan 170 kepala daerah di Jakarta, Selasa 21 April 2026, Amran mengungkapkan bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog diproyeksikan akan menyentuh angka 5 juta ton dalam waktu dekat.
Posisi ini jauh melampaui catatan historis sebelumnya, termasuk pencapaian pada tahun 1984 yang berada di angka 2,6 juta ton.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (Foto: Kementan RI)
"Insyaallah, dalam tiga hari ke depan stok kita mencapai 5 juta ton. Ini adalah yang tertinggi sejak Republik ini merdeka," ujar Amran.
Ketahanan Pangan di Tengah Geopolitik Global
Optimisme pemerintah bukan tanpa alasan. Selain stok fisik di gudang Bulog, ketahanan pangan RI ditopang oleh standing crop atau padi siap panen yang diperkirakan mencapai 11 juta ton.
Jika ditambah dengan serapan di sektor perhotelan, restoran, dan katering (Horeka) sebesar 12,5 juta ton, total pasokan beras nasional diklaim mampu mencukupi kebutuhan domestik hingga 11 bulan ke depan.
Data tersebut menjadi instrumen krusial bagi Indonesia untuk meredam volatilitas harga dan potensi krisis pangan global.
Amran menjelaskan bahwa durasi fenomena El Nino diperkirakan hanya berlangsung selama enam bulan, sehingga cadangan yang ada saat ini jauh melebihi batas risiko.
"Dampaknya tidak masalah. Estimasi El Nino hanya enam bulan, sedangkan cadangan kita bisa memasok hingga 11 bulan. Artinya, lebih dari cukup," tegasnya.
Investasi Strategis dan Mitigasi Kekeringan
Langkah antisipatif juga diperkuat melalui intervensi fiskal dan teknologi pertanian. Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp5 triliun untuk memperkuat infrastruktur dan bantuan sarana produksi.
Prioritas utama diarahkan pada:
- Modernisasi Irigasi: Penggelontoran lebih dari Rp3 triliun untuk program pompanisasi dan optimalisasi sumber air di lahan-lahan rawan kekeringan seluas 1,5 juta hektare.
- Bantuan Benih Ungul: Alokasi Rp2 triliun untuk penyediaan varietas benih tahan kekeringan yang memungkinkan peningkatan indeks pertanaman (IP) hingga tiga kali panen dalam setahun.
- Ekspansi Lahan: Program cetak sawah baru seluas 30.000 hektare untuk meningkatkan kapasitas produksi secara berkelanjutan.
Pemerintah juga telah membuka akses bagi petani untuk mendapatkan bantuan 80.000 unit pompa air. Langkah ini ditargetkan mampu mengamankan sedikitnya 1 juta hektare lahan sawah yang berisiko terdampak penurunan curah hujan ekstrem akibat fenomena Godzilla El Nino tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews





