Saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) kembali menguat pada Selasa (21/4/2026).
IDXChannel – Saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) kembali menguat pada Selasa (21/4/2026), seiring kenaikan harga minyak sawit global yang turut menopang sentimen sektor ini.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 14.09 WIB, saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) memimpin penguatan dengan kenaikan 5,30 persen ke Rp139 per saham.
Selanjutnya, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 3,17 persen, dan PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) menguat 2,56 persen.
Penguatan juga terjadi pada PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) yang naik 2,78 persen, PT Pulau Subur Tbk (PTPS) bertambah 1,61 persen, serta PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang naik 1,89 persen.
Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menguat 1,79 persen, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) turut naik 0,60 persen.
Harga CPO Malaysia kembali menguat pada perdagangan Selasa, melanjutkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut.
Penguatan ini sejalan dengan naiknya harga minyak nabati pesaing, meski kenaikan tertahan oleh ekspektasi peningkatan produksi.
Kontrak berjangka CPO acuan pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange 0,44 persen menjadi 4.518 ringgit Malaysia per ton pada jeda perdagangan siang. Sepanjang sesi, harga sempat menguat hingga 1,04 persen.
Kenaikan harga didorong oleh spread yang lebih menarik dibandingkan minyak nabati lain.
Namun, pelaku pasar masih mencermati data produksi dari pabrik-pabrik di Semenanjung Malaysia, yang berpotensi menahan penguatan lebih lanjut.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,91 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melonjak 1,66 persen.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga tercatat menguat 0,25 persen.
Pergerakan harga CPO memang cenderung mengikuti tren minyak nabati pesaing, mengingat persaingan ketat dalam pasar minyak nabati global.
Sementara itu, lembaga riset Fitch Group melalui BMI mempertahankan proyeksi harga rata-rata CPO tahun ini di level 4.300 ringgit per ton.
Dalam jangka pendek, arah harga dinilai sangat dipengaruhi perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Dalam skenario dasar kami, harga CPO kontrak bulan terdepan di Bursa Malaysia diperkirakan turun menuju 4.200 ringgit per ton sepanjang kuartal II-2026, seiring potensi gencatan senjata bertahan, harga energi melemah, serta produksi musiman di Malaysia dan Indonesia meningkat,” tulis BMI dalam laporannya, seperti dikutip Reuters. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





