PONOROGO (Realita)- Di balik gemerlap kemajuan kota, masih terselip potret kemiskinan ekstrem di pelosok Kabupaten Ponorogo. Namun, di tengah keterbatasan akses dan sulitnya mobilitas ekonomi, seorang perempuan tangguh bernama Endang Widayati (50) hadir membawa secercah harapan.
Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, sosok Endang menjadi cerminan nyata perjuangan perempuan yang tidak hanya berpangku tangan, melainkan terjun langsung membaur dengan masyarakat pinggiran untuk memulihkan ekosistem alam sekaligus mengangkat harkat ekonomi warga.
Baca juga: Kisah Pilu Yuntini Janda Tua, yang Terlupakan di Tengah Program Bedah Rumah di Banyuasin
Perjalanan panjang Endang dalam dunia aktivisme dimulai sejak tahun 2012. Kegelisahannya bermula saat ia melihat banyak daerah di Ponorogo yang terus-menerus bergantung pada pengiriman air bersih dari BPBD.
"Saya penasaran, lalu kami membaur berbulan-bulan dengan masyarakat untuk memetakan kondisinya. Ternyata, akar masalahnya adalah akses jalan yang ekstrem," ujar, Selasa (21/04/2026).
Menurut Endang, kondisi infrastruktur yang sulit menyebabkan mobilitas ekonomi terhambat. Dampaknya, transfer informasi dan inovasi ide seperti teknik pertanian produktif tidak sampai ke warga. Akibatnya, masyarakat terjebak dalam siklus kemiskinan yang seolah dianggap "biasa" oleh lingkungan sekitar.
Memimpin komunitas Hijau Lestari, Sarjana Strata I Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadyah ini, bersama rekan-rekannya menepis anggapan bahwa aksi sosial harus selalu bergantung pada dana besar. Dengan prinsip kemandirian, komunitas ini bergerak melalui edukasi dan aksi nyata.
"Kalau kita punya konsistensi dan *effort* yang kuat, ternyata kita bisa. Kami memiliki kebun bibit sendiri untuk konservasi. Saat penanaman, kami sekaligus mengampanyekan edukasi. Dampaknya luar biasa, masyarakat Ponorogo sangat antusias membantu," tuturnya.
Ia mencontohkan keberhasilan di wilayah Wonopuro dan Wayang. Setelah melakukan penghijauan dan edukasi tanaman produktif seperti alpukat, durian, dan nangka, kini masyarakat mulai bisa menikmati hasilnya. Pemulihan alam yang ia dorong berbanding lurus dengan ketahanan pangan warga setempat.
Dalam perjalanannya, Endang tidak jarang menghadapi jalan terjal. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari apatisme di tingkat pemerintah desa yang sering menganggap kemiskinan sebagai hal yang lumrah.
"Padahal kami tidak meminta pendanaan. Kami hanya meminta welcome saja agar bisa masuk dan membantu masyarakat," tegas.
Di sisi lain, Endang mengapresiasi respons positif dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, serta pihak Perhutani yang mendukung penuh penghijauan di kawasan hutan lindung dan sumber mata air.
Sebagai seorang jurnalis yang aktif sejak tahun 1998, Endang melihat perannya sebagai bentuk panggilan kemanusiaan. Baginya, perempuan memiliki ikatan batin yang kuat dengan alam.
"Perempuan tidak bisa lepas dari alam setiap hari. Pemenuhan kebutuhan dapur dan air semuanya bersentuhan dengan alam. Jika alam rusak dan air tidak ada, maka perempuan dan keluargalah yang pertama kali menderita," pungkasnya.
Di usia yang telah matang, dedikasi Endang Widayati menjadi pengingat bahwa semangat Kartini masih relevan dan hidup di pelosok-pelosok desa. Melalui tangan dinginnya, ia membuktikan bahwa dengan dedikasi dan konsistensi, perubahan nyatabaik untuk kelestarian lingkungan maupun kesejahteraan sesama bukanlah sekadar angan, melainkan hasil dari kerja keras yang nyata. znl
Editor : Redaksi





