Pendekatan Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Benahi Sistem Pengelolaan Sampah Nasional

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pengelolaan sampah di Indonesia dinilai masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari lemahnya tata kelola hingga terbatasnya skema pembiayaan yang berkelanjutan.

CEO Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano, menyoroti pentingnya pembenahan menyeluruh dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Menurutnya, sektor ini masih dibebani berbagai persoalan mendasar, mulai dari lemahnya tata kelola hingga keterbatasan skema pembiayaan yang berkelanjutan.

Sano, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa sekitar 60–70% sampah nasional masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), baik yang menggunakan metode sanitary landfill maupun yang bersifat terbuka.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar sampah tersebut belum melalui proses pengolahan lanjutan yang memadai.

Sano menyebut persoalan ini berakar pada sistem pengelolaan sampah yang belum tertata dengan baik. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai miskonsepsi yang masih berkembang di masyarakat maupun pemangku kepentingan, sehingga penanganannya belum maksimal.

Dia mencontohkan sejumlah pandangan keliru yang kerap muncul, mulai dari anggapan bahwa penanganan sampah selesai saat sudah diangkut, padahal tidak. Lalu, ada pula keyakinan bahwa daur ulang bisa menjadi solusi utama, meski kenyataannya tidak semua sampah dapat diproses demikian. 

Baca Juga

  • Indonesia Hasilkan Sampah Setara 12 Candi Borobudur per Hari
  • Stop Open Dumping 2026: Pemerintah Dorong Ubah Sistem Sampah Nasional, Bali Jadi Contoh

Selain itu, masih ada pandangan bahwa tanggung jawab pengelolaan sepenuhnya berada di tangan pemerintah, padahal permasalahan ini perlu melibatkan banyak aktor. Kemudian, masih ada pula asumsi bahwa pemilahan sampah bisa dilakukan di TPA, meski praktiknya di lapangan belum berjalan optimal karena sampah sudah tercampur sejak awal.

"Penyelesaian masalah sampah harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai sesuatu yang perlu dibuang, tetapi juga sebagai potensi sumber daya yang memiliki manfaat. Dalam konteks ini, pergeseran menuju circular economy menjadi penting, karena menempatkan sampah sebagai bagian dari siklus, bukan akhir dari proses," katanya dalam acara Refleksi Hari Bumi: Meninjau Ulang Sistem Pengelolaan Sampah Indonesia, Jakarta, Senin, (20/4/2026)

Meski demikian, pendekatan ini hanya dapat berjalan efektif apabila dibarengi dengan perubahan perilaku serta keterlibatan aktif seluruh pihak dalam ekosistem pengelolaan sampah. Tanpa dukungan tersebut, upaya perbaikan sistem akan sulit mencapai hasil yang optimal.

Sebagai bentuk implementasinya, Waste4Change mengoperasikan lima fasilitas pengolahan sampah melalui Rumah Pemulihan Material (RPM), salah satunya berada di Tangerang. Fasilitas ini berperan dalam memilah dan mengolah sampah secara lebih terstruktur, sekaligus mendorong peningkatan tingkat pemulihan material dan mengurangi ketergantungan pada TPA.

Sementara itu, Affiliated Expert SUSTAINABILITAS, Center for Sustainability Studies Universitas Harkat Negeri, Fazlur Rahman Hassan, menilai bahwa persoalan pembiayaan pengelolaan sampah di Indonesia kerap terjebak dalam tarik-menarik kepentingan politik jangka pendek.

Dia menjelaskan banyak kepala daerah sebenarnya memahami bahwa biaya riil pengelolaan sampah jauh lebih tinggi dibandingkan tarif yang dibebankan kepada masyarakat. Namun, kebijakan untuk menaikkan retribusi sampah dinilai tidak populer secara politik sehingga cenderung dihindari.

"Akibatnya, sistem persampahan terus berjalan dengan tarif yang terlalu rendah untuk menghasilkan layanan yang layak. Yang kita butuhkan adalah generasi baru pemimpin yang berani memperlakukan pengelolaan sampah sebagai persoalan ekonomi-politik, bukan sekadar teknis," tegasnya.

Padahal, menjalankan ekonomi sirkular merupakan opsi menarik untuk pengelolaan sampah. Dalam konsep ekonomi sirkular, material harus diputar selama mungkin dalam sistem sehingga tidak menjadi limbah.  

Segendang sepenarian, Nadia Sofia Habibie, Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, memberikan sorotan terhadap eratnya hubungan antara buruknya pengelolaan sampah dan isu keamanan air yang kini menjadi salah satu fokus strategis lembaganya. Dia menekankan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan daratan, tetapi juga merembet ke kualitas sumber daya air.

Nadia merujuk pada data Kementerian Lingkungan Hidup yang menunjukkan bahwa sebagian besar sungai di Indonesia telah mengalami pencemaran. Kondisi ini berpotensi semakin memburuk dengan adanya ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino, yang diperkirakan dapat memperparah krisis air di berbagai wilayah.

"Kita harus bersiap menghadapi dunia yang lebih kering. Karena itu, air yang tersisa harus tetap bersih dan dapat diakses oleh semua, terutama kelompok paling rentan,” tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mahasiswi Indonesia Terpilih Pidato di Wisuda King Abdulaziz University Jeddah
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Seskab Teddy Terima Menteri Koperasi Bahas Rekrutmen 30.000 Manajer Kopdes Merah Putih
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Kisah Santri Yatim di Karanganyar Mandiri Berkat Program MBG
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dorong Penguatan Penjualan Melalui Costumer Gatering dan Inaugurasi Bagi Konsumen Loyal
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.