EtIndonesia. Pada 21 April dini hari, jarak sudut antara Mercury, Mars, dan Saturn akan mencapai titik terdekat, menghadirkan fenomena langka yang disebut “tiga planet sejajar”. Catatan kuno Tiongkok menyebut bahwa fenomena ini sering dianggap sebagai pertanda naik-turunnya dinasti atau gejolak sosial.
Tiga planet berkumpulMenurut para ahli astronomi, menjelang fajar 21 April, di langit timur akan terlihat fenomena langka “tiga planet sejajar”, dengan jarak antar planet hanya sekitar 45 menit busur—yang merupakan jarak minimum.
Di antara ketiga planet tersebut, Mars tampak kemerahan, Saturnus berwarna kuning pucat, sementara Merkurius meski posisinya lebih rendah tetap bersinar terang. Ketiganya akan tampak bersamaan di langit fajar, membentuk susunan berlapis yang indah seperti “formasi kosmik”. Jika cuaca cerah dan atmosfer bersih, fenomena ini dapat diamati dengan jelas.
Sebenarnya, “pertemuan” ini sudah dimulai sejak 16 April, namun saat itu jaraknya masih cukup jauh. Di antara ketiganya, Merkurius bergerak paling cepat dalam orbitnya, sementara Mars dan Saturnus lebih lambat. Fenomena ini ibarat “perlombaan di luar angkasa”: Mars perlahan mendekati Saturnus, sementara Merkurius yang lebih cepat menyusul keduanya, hingga akhirnya membentuk fenomena “tiga planet sejajar” pada 21 April pagi.
Fenomena langka ini memicu perbincangan hangat di kalangan penggemar astronomi. Namun, sebagian warganet yang memahami astronomi kuno berpendapat bahwa fenomena ini bukan pertanda baik, melainkan bisa menjadi tanda akan datangnya bencana.
Pertanda naik-turunnya dinastiDalam tradisi Tiongkok kuno, fenomena “tiga planet sejajar” sering dikaitkan dengan konsep “mandat langit”, yang dipercaya menandakan perubahan dinasti, pergantian kekuasaan, atau gejolak sosial. Catatan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam kitab seperti Book of Han dan Old Book of Tang.
Dalam Book of Han disebutkan: “Jika tiga bintang berkumpul, itu disebut perubahan posisi; akan terjadi perang atau kematian, dan pergantian penguasa.”
Dalam sejarah, kemunculan fenomena serupa disebut-sebut bertepatan dengan peristiwa besar, seperti penyatuan Tiongkok oleh Dinasti Qin, runtuhnya kekuasaan tertentu dan berdirinya dinasti baru, hingga kejatuhan Dinasti Sui dan kebangkitan Dinasti Tang.
Ahli astrologi Dinasti Tang, Li Chunfeng, dalam karyanya Yisi Zhan menulis:
“Jika tiga atau lebih bintang berada dalam satu rasi, itu disebut pertemuan. Jika saling mendukung, maka peristiwa baik akan terjadi; jika saling bertentangan, maka peristiwa buruk akan muncul.”
Ia juga menyebut bahwa jika tiga bintang berkumpul dalam satu rasi, itu disebut “kejutan langit” dan menandakan pergantian penguasa.
Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui





