Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan laba bersih konsolidasian yang mencapai Rp15,4 triliun atau tumbuh 16,6% secara tahunan pada kuartal I/2026, ditopang pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang tetap solid di tengah dinamika global.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menjelaskan bahwa kinerja perseroan tidak terlepas dari kondisi makroekonomi domestik yang relatif kuat.
Dia menilai, meski tekanan global masih berlangsung akibat tensi geopolitik, ekonomi Indonesia justru menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan di kisaran 5,5% pada awal 2026.
“Hal ini menegaskan bahwa Indonesia mampu menjaga momentum ekspansi di tengah situasi global yang tidak mudah,” ujarnya dalam paparan kinerja, Selasa (21/4/2026).
Dari sisi fiskal, percepatan belanja pemerintah yang mencapai sekitar Rp815 triliun menjadi motor penggerak utama aktivitas ekonomi, terutama pada sektor produktif dan padat karya.
Sementara itu, kebijakan moneter yang tetap akomodatif namun prudent dinilai berhasil menjaga stabilitas, tercermin dari inflasi yang terkendali di kisaran 3% serta suku bunga yang tetap mendukung pertumbuhan.
Baca Juga
- Bank Mandiri Jadi Perusahaan Terbaik Indonesia Versi TIME
- Prospek Solid Kinerja Bank Mandiri
- Rupiah Melemah, Cek Kurs Dolar AS BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI Hari Ini (20/4)
Riduan menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah juga relatif terjaga di tengah tekanan global, sehingga mampu memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter tersebut dinilai berhasil menjaga kepercayaan pasar sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam konteks industri, kondisi tersebut tercermin pada sektor perbankan yang tetap resilien, dengan likuiditas terjaga, pertumbuhan DPK yang meningkat, serta kredit yang terus tumbuh positif seiring meningkatnya permintaan pembiayaan dari sektor riil.
Sejalan dengan itu, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 17,4% secara tahunan hingga kuartal I/2026, hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan industri.
Penyaluran kredit tersebut difokuskan untuk mendorong aktivitas ekonomi riil, khususnya sektor produktif dan padat karya, termasuk UMKM yang tumbuh 5,27% secara tahunan, lebih baik dibandingkan industri yang masih mengalami kontraksi pada segmen tersebut.
Dari sisi pendanaan, DPK Bank Mandiri tumbuh 21,1% secara tahunan, melampaui rata-rata industri sebesar 13,2%. Capaian ini menunjukkan kemampuan perseroan dalam menjaga kepercayaan nasabah sekaligus memastikan likuiditas yang stabil dan berkelanjutan.
Selain itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang berada di bawah rata-rata industri. Bank Mandiri juga mencatat rasio kredit bermasalah yang sangat rendah di level 0,98%, mencerminkan disiplin dalam pengelolaan risiko.
“Pertumbuhan yang kami capai selalu diiringi dengan pengelolaan kualitas aset yang disiplin, sehingga menghasilkan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” kata Riduan.
Secara profitabilitas, perseroan mencatatkan return on equity (ROE) sebesar 22,1% dengan rasio permodalan (CAR) yang tetap kuat di level 19,7%. Kinerja ini disebut sebagai hasil dari strategi sinergi yang terintegrasi, termasuk penguatan ekosistem UMKM dan ekonomi kreatif serta percepatan digitalisasi.
Bank Mandiri juga menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung berbagai program nasional, seperti kredit usaha rakyat (KUR), program 3 juta rumah, makan bergizi gratis, hingga Koperasi Desa Merah Putih.
Hingga kuartal I/2026, realisasi penyaluran KUR Bank Mandiri mencapai Rp11 triliun dan telah menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong inklusi keuangan.





