Kenapa BRICS Hobi Banget Beli Emas?

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Negara-negara yang tergabung dalam BRICS tercatat semakin agresif meningkatkan cadangan emas dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini dinilai bukan sekadar strategi
investasi, melainkan bagian dari pergeseran besar dalam sistem keuangan global.
 
BRICS yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan kini telah berkembang dengan masuknya sejumlah negara baru seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, hingga Indonesia pada 2025. Total anggota penuh kini mencapai 10 negara.
  Baca juga: BRICS, Stabilitas di Era Perubahan              
Secara agregat, blok ini mewakili sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli, serta hampir separuh populasi dunia. Dengan skala ekonomi tersebut, keputusan kebijakan cadangan yang diambil negara-negara BRICS dinilai memiliki dampak struktural terhadap sistem keuangan global. Cadangan Emas BRICS Tembus Ribuan Ton Data menunjukkan total cadangan emas negara-negara BRICS+ kini telah melampaui 6.000 ton. Tiongkok, Rusia, dan India menjadi pemegang terbesar dalam kelompok tersebut.
Rusia memimpin dengan 2.336 ton, China memegang 2.298 ton, dan India memegang 880 ton. Bahkan Brasil kembali ke pasar pada September 2025, pembelian pertamanya sejak 2021, menambahkan 16 ton untuk membawa totalnya menjadi 145,1 ton.
 
Antara tahun 2020 dan 2024, bank sentral BRICS+ menyumbang lebih dari 50% dari semua emas yang dibeli oleh bank sentral di seluruh dunia. Porsi mereka dari cadangan emas dunia telah meningkat dari 11,2% pada tahun 2019 menjadi 17,4% saat ini (World Gold Council).

Bank sentral global secara kolektif melebihi 1.000 ton pembelian tahunan pada tahun 2022, 2023, dan 2024, rentetan pembelian terpanjang dalam sejarah modern. Pada tahun 2025, pembelian mencapai 863 ton. Negara-negara BRICS mendorong tren tersebut.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi BRICS terhadap pembelian emas bank sentral dunia juga meningkat signifikan, mencapai lebih dari separuh total pembelian global. Tren ini menunjukkan adanya pergeseran strategi cadangan dari aset berbasis dolar menuju aset yang dianggap lebih netral seperti emas. Dorongan De-Dolarisasi hingga Risiko Utang AS Sejumlah faktor menjadi pendorong utama meningkatnya pembelian emas, di antaranya:
Pertama, tren penurunan dominasi dolar AS dalam cadangan global. Porsi dolar tercatat turun dari sekitar 70 persen pada akhir 1990-an menjadi kisaran 50–60 persen saat ini.
 
Kedua, meningkatnya risiko geopolitik dan sanksi internasional yang membuat negara-negara mencari aset cadangan yang tidak dapat dibekukan. Ketiga, kekhawatiran terhadap meningkatnya utang pemerintah Amerika Serikat yang kini telah menembus puluhan triliun dolar. Keempat, upaya sejumlah negara untuk membangun sistem pembayaran alternatif di luar dominasi dolar.
 
Pembekuan cadangan Rusia pada 2022 disebut menjadi momentum penting yang mempercepat pergeseran strategi bank sentral di berbagai negara. Sejak saat itu, pembelian emas oleh bank sentral global meningkat tajam dan bertahan di level tinggi. Tren ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian dalam pengelolaan cadangan devisa di tengah ketidakpastian global.
 
Meski demikian, dolar Amerika Serikat masih tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia. Namun, sejumlah indikator menunjukkan adanya penurunan dominasi secara bertahap.
Bank sentral di berbagai negara juga memperkirakan porsi dolar dalam cadangan global akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya diversifikasi aset ke emas.
Tujuh puluh tiga persen bank sentral di seluruh dunia mengharapkan pangsa cadangan dolar terus menurun. Tidak ada yang spekulatif tentang ini semuanya sudah dalam proses.
 
Peningkatan pembelian emas oleh negara-negara BRICS menunjukkan adanya perubahan arah dalam manajemen cadangan global. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, emas kembali mengambil peran strategis sebagai aset yang dianggap paling netral dan tahan krisis.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buntut Tewasnya 7 Orang di TPST Bantargebang, Mantan Kepala Dinas LH DKI Jakarta Jadi Tersangka
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
DPR Minta Pemerintah Tak Lengah Jaga Stabilitas Harga Energi usai Harga BBM Nonsubsidi Naik
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Basuki Ungkap Filosofi Gedung Parlemen di IKN Sesuai Gaya Kepemimpinan Prabowo
• 22 jam laludetik.com
thumb
PRT Berhak Dapat BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Tanggung Jawab Pemberi Kerja atau Negara?
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
7 Laga Tanpa Kekalahan! Persijap Diam-Diam Bangkit di Super League
• 14 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.