Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah ke 7.559,38 pada Selasa (21/4/2026). Penurunan indeks terseret koreksi saham big caps, antara lain DSSA dan BREN usai MSCI berencana mengeluarkan saham indonesia yang masuk dalam daftar terkonsentrasi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah sebesar 0,46% atau 34,73 poin menuju 7.559,38. Indeks komposit hari ini dibuka pada level 7.560,28 dan sempat menyentuh posisi tertingginya di 7.568,98.
Tercatat, sebanyak 386 saham menguat, 264 saham turun, dan 168 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar mencapai Rp13.468,52 triliun.
Dari jajaran saham big caps, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) menguat 7,71% ke posisi Rp9.425. Adapun saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menyusul dengan kenaikan 3,70% menjadi Rp6.300, dan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) meningkat 1,80% ke level Rp5.650.
Sebaliknya, penurunan dicatatkan oleh saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar 14,98% ke level Rp2.780 dan saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) terkoreksi sebesar 9,47% menjadi Rp5.975 per saham. Koreksi ini pun menempatkan keduanya ke dalam saham top losers.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turut menjadi penekan indeks dengan koreksi sebesar 4,94% ke Rp3.270, sedangkan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) terkontraksi 2,90% menjadi Rp3.010.
Sementara itu, saham top gainers hari ini dihuni oleh PT Trimitra Propertindo Tbk. (LAND) yang melonjak sebesar 34,72% ke Rp97, sementara PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM) tumbuh 34,48% menjadi Rp156 per saham.
Untuk diketahui, MSCI pada Senin 20 April 2026 telah mengumumkan hasil penilaian indeks saham Indonesia di MSCI Global Standard Indexes. Salah satu poinnya adalah MSCI akan mengeluarkan saham Indonesia yang masuk dalam daftar saham terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman mengatakan bahwa hal itu berarti dua konstituen saham Indonesia, BREN dan DSSA akan dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes. Menurutnya hal ini bukan suatu yang mengagetkan dan sudah diprediksi sebelumnya.
“Untuk potensi outflow seharusnya tekanan jual secara masif sudah terjadi, jadi hanya melihat potensi outflow passive fund manager yang akan efektif 1 Juni 2026,” ujarnya dalam kanal YouTube Maybank Sekuritas, Selasa (21/4/2026).
Sementara itu, Fath menyampaikan bahwa mengacu pada data MSCI Emerging Market per Maret 2026, bobot Indonesia berada di kisaran 1%.
Dengan total dana kelolaan pasif global yang mengikuti MSCI mencapai US$1,4 triliun, potensi dana keluar dari BREN diperkirakan mencapai Rp6 triliun, sementara untuk DSSA bisa menyentuh angka Rp9 triliun.
“Jadi pengumuman rebalancing MSCI pada 12 Juni, efektifnya [outflow] 1 Juni. Bedanya apa? Kalau pengumuman itu saham apa saja yang akan keluar, dan efektif outflow itu di tanggal 1 Juni,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





