Bisnis.com, JAKARTA – Iran menolak perundingan damai baru dengan Amerika Serikat (AS), hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengirim utusan ke Pakistan untuk bernegosiasi dan mengancam menyerang Iran jika tidak menerima persyaratannya.
Trump mengunggah pernyataan di Truth Social bahwa utusannya akan tiba pada Senin (20/4/2026) malam untuk bernegosiasi. Jadwal tersebut menyisakan waktu hanya satu hari bagi perundingan untuk mencapai kemajuan sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir.
"Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya berharap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik dan setiap Jembatan di Iran," tulis Trump seperti dikutip Middle East Online, Senin (20/4/2026).
Kantor berita resmi Iran, IRNA, tidak menyebutkan sumber spesifik dalam laporannya mengenai penolakan tersebut.
"Iran menyatakan bahwa ketidakhadirannya dalam putaran kedua perundingan berasal dari apa yang disebut sebagai tuntutan berlebihan Washington, ekspektasi tidak realistis, perubahan sikap yang terus-menerus, kontradiksi berulang, serta blokade laut yang masih berlangsung, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata," tulis IRNA.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar atas penolakan Iran terhadap perundingan tersebut.
Baca Juga
- China Prihatin atas Penyitaan Kapal Iran oleh AS di Teluk Oman
- Kondisi Terbaru Selat Hormuz, Suasana Makin Keruh karena AS Rebut Kapal Induk Iran
- AS Cegat dan Sita Kapal Iran, Blokade Trump di Selat Hormuz
Seorang pejabat Gedung Putih sebelumnya menyatakan delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin perundingan damai pertama sepekan lalu, serta turut menyertakan utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner. Trump sebelumnya mengatakan kepada ABC News dan MS Now bahwa Vance tidak akan pergi.
Kemunduran diplomatis ini terjadi di tengah masih tersumbatnya arus pelayaran di Selat Hormuz, dan berpotensi memicu lonjakan harga minyak baru ketika pasar dibuka kembali setelah akhir pekan dalam hitungan jam.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, sebelumnya menyebut kedua belah pihak telah mencapai kemajuan, tetapi masih berselisih jauh dalam isu nuklir dan Selat Hormuz.
Iran memblokir selat tersebut bagi kapal selain miliknya sendiri sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Pada Jumat (17/4), Iran mengumumkan akan membuka kembali jalur perairan itu. Namun, keputusan tersebut dibatalkan pada Sabtu (18/4) setelah Trump menolak mencabut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin di Selat Hormuz. Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita!" tulis Trump dalam unggahannya pada Minggu pagi.
Pakistan berperan sebagai mediator utama dalam upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Perdana Menteri Shehbaz Sharif berbicara melalui telepon pada Minggu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Kantor Sharif menyebutkan Pezeshkian berterima kasih atas upaya mediasi Pakistan, dalam ringkasan percakapan yang tidak menyinggung penolakan Iran terhadap putaran perundingan berikutnya.





