Jakarta: Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran telah berlangsung hampir 2 bulan. Perang yang disebut hanya akan berlangsung beberapa hari itu justru masih berlarut-larut usai pemerintah Iran kembali menutup Selat Hormuz.
Diluar dugaan, Iran mampu memberikan perlawanan. Tidak hanya di medan pertempuran, tapi menjadikan Selat Hormuz sebagai kunci dalam konflik tersebut.
Pakar Timur Tengah, Nasir Tamara, mengungkapkan, pemerintah Iran memiliki dua keunggulan dalam menghadapi perang tersebut. Selain militer yang hebat, Iran juga memiliki diplomat yang kuat.
"Kombinasi antara diplomasi dan militer ini kita (Indonesia) harus belajar dari Iran," ujar Nasir, dalam Bedah Buku Revolusi Iran: Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan AS, Selasa, 21 April 2026.
Hal tersebut terlihat dari negosiasi pascagencatan senjata beberapa waktu lalu. Pihak Iran mengirim pakar terbaik di bidangnya.
"Kombinasi antara diplomasi dan militer ini kita (Indonesia) harus belajar dari Iran. Perunding-perunding Iran ini kan yang terbaik. Doktor dan Profesor. AS mengirim menantu, teman bisnis, wakil presiden," tuturnya. Kesalahan istilah Nasir mengatakan, dalam konflik tersebut Iran sebenarnya ingin damai. Menurutnya, ada kesalahan ketika orang-orang menilai perang tersebut merupakan perang Iran.
"Iran ingin damai. Ada kesalahan orang menulis Perang Iran, seharusnya war against Iran atau perang menyerang Iran. Jadi bukan perang Iran," jelasnya.
Ia menjelaskan, istilah yang benar untuk menyebut konflik tersebut adalah perang AS-Israel menyerang Iran. Menuturnya, hal tersebut telah terjadi ketika AS-Israel menyerang Iran pada pertengahan tahun lalu.
"(AS-Israel) pasti akan menyerang lagi. pola yang sama itu dilakukan Amerika dan Israel. Kebaca dalam hubungan internasionalnya. Mereka akan menyerang ketika lawannya lemah dan lengah," ucapnya.
Ilustrasi Pexels Peluncuran buku Pada kesempatan tersebut, Nasir meluncurkan Buku berjudul Revolusi Iran: Dari Tumbangnya Shah Iran hingga Perang Melawan AS. Mengutip laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), buku tersebut merupakan salah satu rujukan penting dalam literatur berbahasa Indonesia mengenai Revolusi Iran.
Edisi terbaru buku ini dilengkapi enam bab tambahan dan epilog yang merekam perkembangan Iran hingga kondisi mutakhir. Peluncuran buku oleh BRIN merupakan upaya membuka ruang pembacaan ulang terhadap Revolusi Iran 1979 dalam lanskap geopolitik yang terus berubah.




