Bisnis.com, SURABAYA – Dengan status Surabaya sebagai kota metropolitan dan hub Indonesia Timur, masyarakat dari kalangan menengah atas tumbuh dengan subur di penjuru wilayah urban, dan turut serta menggeser pola dan kebiasaan konsumsi menuju corak modernitas.
Naung Group Hospitality pun membaca peluang tersebut dengan menjalankan bisnis di industri Food & Beverage (F&B). Mengusung konsep dan menghadirkan pengalaman santap yang berbeda dari restoran elit pada umumnya, lahirlah Senses, modern Asian dining yang terletak di kawasan Citraland.
Kehadiran Senses tidak hanya memperkaya deretan lanskap kuliner premium di Kota Pahlawan, tetapi juga menghadirkan pengalaman santap berbasis pengalaman (experiential dining), fokus terhadap cerita, asal-usul, serta nilai dari setiap hidangan yang disajikan, di mana kini semakin diminati oleh masyarakat elit di kawasan perkotaan.
Chief Executive Officer Naung Group Andrew Zefanya mengungkapkan Senses bukan hanya sekadar restoran dengan beragam sajian menu berkualitas tinggi. Namun, tutur dia, juga berfungsi sebagai sebuah ruang sosial dan gaya hidup yang relevan dengan dinamika pasar saat ini.
Menurutnya, Senses adalah bagian dari strategi bisnis untuk menciptakan diversifikasi, memperluas segmen pasar, serta meningkatkan nilai dari setiap kunjungan dengan memanfaatkan perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis.
"Surabaya adalah kota metropolitan dengan pertumbuhan warga kelas menengah atas yang menjadi pasar potensial. Senses dirancang sebagai sebuah ekosistem hospitality terpusat, dengan menggabungkan restoran, bakery artisan Something Baked, serta bar speakeasy Apostrophe dalam satu destinasi yang padu," ungkap Andrew, Senin (20/4/2026).
Baca Juga
- Peluang dan Biaya Franchise Restoran Padang Rindu Minang
- Dua Restoran Baru SJM Resort Raih Bintang Michelin 2026
- 10 Rekomendasi Cafe dan Restoran Ramah Anak di Semarang
Ia mengungkapkan pendekatan yang digunakan manajemen tidak hanya berfokus pada hilir, tetapi juga memperkuat sisi hulu melalui strategi penggunaan terhadap bahan pangan maupun rempah-rempah khas Nusantara maupun dataran Asia yang secara keseluruhan bersifat autentik.
Andrew menyatakan penggunaan bahan-bahan baku yang diperoleh langsung dari daerah asal menjadi bagian dari upaya manajemen dalam menciptakan keunggulan tersendiri sekaligus turut serta menggerakkan pertumbuhan ekonomi dari masyarakat adat di wilayah pemasok.
Sebagai bagian dari pengembangan, tim Senses juga melakukan eksplorasi ke berbagai daerah di tanah air untuk memahami lebih dalam mengenai potensi bahan baku, budaya kuliner, serta peluang untuk menjalin kolaborasi dengan masyarakat lokal secara berkelanjutan.
"Di Senses, kami menghadirkan kulat mushroom dari Bangka dengan karakter rasa earthy yang khas, andaliman dari dataran tinggi Karo yang memiliki profil rasa unik, serta program catch of the day, yang menghadirkan ikan segar hasil tangkapan nelayan Bali dan perairan Jawa Timur, khususnya Madura dan Gresik," paparnya.
Lebih lanjut, Andrew menyebut kebijakan tersebut tidak hanya mencerminkan menjaga kualitas dan autentisitas produk, tetapi juga membentuk skema pasar yang lebih inklusif dengan melibatkan petani, nelayan, serta produsen lokal sebagai bagian dari rantai pasok yang memiliki nilai sentral dalam keberlangsungan bisnis.
"Strategi ini juga membuka peluang pengembangan pasar bagi berbagai komoditas dan masyarakat lokal agar dapat naik kelas menuju segmen premium, seiring meningkatnya permintaan terhadap bahan berkualitas tinggi dengan identitas yang kuat," ucapnya.
Andrew percaya diri Senses tidak hanya hadir dengan mengusung konsep yang menarik, tetapi juga kemampuan tim dalam membaca segmentasi pasar, membangun sistem yang efisien, serta menciptakan keberlanjutan di industri F&B.
“Kami melihat Senses sebagai bagian dari strategi untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya dari sisi pengalaman pelanggan, tetapi juga dari bagaimana kami mengembangkan pasar, memperkuat rantai pasok lokal, dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih luas,” ujar Andrew.
Sementara, "Senses" Corporate Chef Slamet Priyono, atau Chef Mamet menekankan berbagai hidangan maupun suguhan yang dihadirkan di Senses lahir dari interpretasi modern atas berbagai macam kuliner khas Asia dengan menggabungkan teknik pengolahan yang kontemporer dengan kekayaan tradisi.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan yang terjalin dalam rasa, teknik, dan bentuk penghormatan terhadap bahan baku lokal sebagai fondasi utama dalam pengembangan dari setiap menu yang disajikan ke meja setiap pelanggan.
"Setiap hidangan yang ada tidak hanya dirancang untuk memberikan pengalaman rasa, tetapi juga membawa narasi tentang asal-usul bahan dan prosesnya, sehingga menciptakan nilai tambah yang memperkuat daya saing di pasar," ungkapnya.
Naung Group merupakan hospitality collective berbasis lifestyle yang berfokus pada pengembangan brand berbasis pengalaman di berbagai sektor, mulai dari dining, coffee, bakery, bar culture, hingga roastery.
Dengan filosofi “A Better Life,” manajemen berkomitmen untuk tidak hanya membangun jenama yang kuat, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ekosistem industri yang lebih matang, inklusif, dan berkelanjutan.





