Ibu ‘Menteri Keuangan’: Ini Peran Perempuan Atur Uang Keluarga di Era Digital

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Seorang ibu punya peran yang sangat sentral dalam keluarga. Bukan hanya memastikan seluruh kebutuhan harian terpenuhi, tapi juga harus menyeimbangkan waktu untuk kehidupan profesional. Meniti karier sebagai bagian dari aktualisasi diri sekaligus membantu keuangan keluarga.

Di sisi lain, ibu menjadi sosok yang berperan memastikan pengelolaan keuangan rumah tangga aman. Makanya, seorang ibu sering dianalogikan sebagai ‘menteri keuangan’. Di tangan sang menteri keuangan ini, setiap rupiah yang masuk dialokasikan dengan penuh perhitungan melalui teknik pos-posan yang disiplin. Sebut saja memisahkan antara kebutuhan pokok, tabungan masa depan, hingga instrumen investasi.

Kebocoran anggaran rumah tangga kerap terjadi jika ‘menteri keuangan’ keluarga tidak disiplin mengatur pos-pos anggaran. Misalnya, terpakainya alokasi dana pendidikan anak untuk kebutuhan hobi, hingga kehabisan anggaran untuk kebutuhan dapur karena terlalu sering jajan di luar.

Akibatnya bisa beragam dan terkadang fatal. Sebut saja, terkurasnya uang tabungan atau bahkan sampai ada yang mencari jalan pintas dengan meminjam uang dan akhirnya terjebak utang. Kondisi seperti itu tidak jarang berpengaruh pada mental. Ibu rumah tangga sebagai ‘menteri keuangan’ bisa stres dan bahkan memicu konflik dengan suami.

Makanya, disiplin dalam mengatur uang belanja dan tabungan masa depan menjadi sangat penting. Ade Nur, warga Depok, jadi salah satu contohnya. Selain fokus sebagai ibu, ia juga mengembangkan usaha katering untuk membantu ekonomi keluarga.

“Bisa dibilang saya juga lagi ngejar karier versi saya sendiri. Paling besar fokus sebagai ibu, tapi saya lagi mengembangkan usaha di bidang katering buat bantu pemasukan keluarga,” ujarnya, kepada kumparan, Rabu (1/4).

Dalam hal keuangan, Ade memegang kendali penuh atas pengelolaan pendapatan keluarga. Dia menerapkan pembagian anggaran yang disiplin setiap bulan.

“Saya sih biasanya 30 persen untuk cicilan (mobil dan barang elektronik), 50 persen buat kebutuhan bulanan, 20 persennya buat tabungan (hari tua-anak-darurat),” jelasnya.

Pendapatan dari usaha katering tak digunakan untuk konsumsi harian, melainkan difokuskan untuk tabungan prioritas dan dana darurat.

Ade mengamini analogi ibu sebagai 'Menteri Keuangan' dalam keluarga. Baginya, peran tersebut memang melekat pada perempuan yang sudah berumah tangga.

“Setuju sama analogi itu, emang bener ya, saya pikir peran ini memang sering dijalani perempuan dalam mengelola keuangan keluarga,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ardhya Fausta, ibu muda asal Bekasi yang juga menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja.

“Menurut saya ibu sebagai menteri keuangan itu tepat banget sih, karena ibu-ibu tuh akurat banget soal perhitungan,” ujar Ardhya.

Ardhya menilai pengalaman sehari-hari dalam mengatur kebutuhan rumah membuat ibu lebih peka terhadap kondisi ekonomi, termasuk harga kebutuhan pokok hingga perencanaan bulanan.

Meski begitu, Ardhya menekankan komunikasi dengan suami harus tetap dilakukan dalam pengelolaan keuangan. Dari sisi dukungan, kata Ardhya, suami tetap menjadi sumber utama pendapatan.

“Support suami sejauh ini dia terbuka sama saya soal pendapatannya, terus juga dia bisa ikut tekan pengeluaran pribadinya yang gak penting,” ujar Ardhya.

Ibu Perlu Adaptif dengan Teknologi dalam Mengelola Keuangan

Dalam praktiknya, pengelolaan keuangan kini semakin terbantu dengan teknologi. Ade mulai memanfaatkan perbankan digital dan pencatatan digital.

Penghasilan dari usaha katering yang tak digunakan untuk konsumsi harian kerap ditaruh di fitur Kantong aplikasi Bank Jago. Katanya, agar memudahkan supervisi setiap waktu dan budgeting lebih terjaga.

“Suka pake kantong-kantong gitu di Bank Jago, menurutku mudah aja ya pakainya. Apalagi ada 60 kantong itu banyak banget dan ya enggak kepecah aja (uangnya),” ungkap Ade.

Ade setidaknya punya beberapa kantong yang dibuat secara personal. Salah satu yang utama dan paling sering dipakai adalah kantong Belanja Dapur yang memang bisa dibuat secara khusus. Kantong ini menjadi yang paling sering dipakai. Ada lagi kantong yang dikasih nama jajan, shopping, uang sekolah, hingga kantong khusus untuk rencana jalan-jalan yang dikasih nama Travel.

Selain kantong personal, di Bank Jago juga ada fitur Kantong Bersama yang bisa dimanfaatkan bersama dengan pasangan. Fitur itu bisa untuk nabung bersama, memonitor hingga mengatur pengeluaran secara transparan.

Sementara, Ardhya juga menggunakan metode cash stuffing versi digital dengan memanfaatkan fitur Kantong di Bank Jago untuk membagi anggaran ke berbagai kebutuhan.

"Saya gak suka megang terlalu banyak uang cash, jadi semua pemasukan termasuk gaji saya kumpulkan dulu, lalu dibagi ke beberapa kantong sesuai dengan kebutuhan," ungkap dia.

Hampir sama dengan Ade, Ardhya juga punya beberapa kantong yang dibuat personal. Bedanya, kantong milik Ardhya dikasih nama lebih spesifik sesuai kebutuhan sehari-hari. Ibu anak satu bahkan menamakan salah satu kantong miliknya dengan nama sang anak yakni Tabungan Zea.

Perencana keuangan Mike Rini menilai peran ibu sebagai pengelola keuangan rumah tangga sangat krusial dan mencakup banyak aspek. Menurutnya, ibu tak hanya berperan dalam pengelolaan, tapi juga perencanaan, penganggaran, hingga mitigasi risiko keuangan.

“Ibu memastikan bahwa berbagai sumber-sumber pendapatan dari keluarga itu mampu mencukupi berbagai kebutuhan atau pengeluaran rumah tangga,” jelas Mike Rini.

Mike Rini menegaskan pengeluaran tidak boleh lebih besar dari pendapatan keluarga. Selain itu, peran ibu juga mencakup perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk investasi, karena kebutuhan keluarga tidak hanya untuk saat ini tetapi juga masa depan.

Mike Rini melanjutkan, peran ibu sebagai ‘Menteri Keuangan” juga mencakup pengelolaan berbagai aset keluarga. Aset bisa berupa tabungan di bank, deposito, investasi seperti emas, hingga aset penggunaan seperti rumah tinggal dan kendaraan pribadi. Semua perlu diatur secara strategis agar mampu mendukung tujuan keuangan keluarga.

Menurutnya, tujuan utama pengelolaan keuangan rumah tangga adalah memastikan kebutuhan saat ini terpenuhi sekaligus mempersiapkan kebutuhan masa depan seperti pendidikan anak dan dana pensiun.

“Kalau keuangan keluarga sehat, biasanya secara psikologis juga lebih tenang. Ada rasa aman karena tahu kebutuhan tercukupi dan masa depan sudah dipersiapkan,” jelas Mike Rini.

Mike Rini menyebut indikator keluarga yang sehat secara finansial antara lain memiliki tabungan yang cukup, utang yang terkendali, serta kemampuan untuk berinvestasi. Salah satu tantangan yang sering dihadapi keluarga adalah uang bulanan yang cepat habis. Mike Rini menyebut hal itu umumnya disebabkan oleh tidak adanya prioritas.

“Kalau kita bicara uang bulanan menguap, ini penyebabnya banyak. Tapi biasanya yang saya amati itu karena tidak punya prioritas,” jelasnya.

Dia menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya, makan adalah kebutuhan, sedangkan jajan merupakan keinginan yang bisa dikendalikan.

Selain itu, kebiasaan tidak memiliki rencana belanja juga membuat pengeluaran membengkak, terutama pada kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Mike Rini juga menekankan pentingnya menabung dan investasi di awal, bukan dari sisa uang. “Kalau kita sudah menabung dan investasi di depan, sebenarnya uang itu tidak hilang, tapi sudah dialihkan untuk masa depan,” terang Mike Rini.

Mike Rini mengingatkan pentingnya dana darurat untuk mengantisipasi kebutuhan tak terduga yang bisa mengganggu keuangan.

Dalam mengatur prioritas keuangan, Mike Rini menegaskan penganggaran menjadi kunci utama. Pendapatan perlu dialokasikan sejak awal untuk tabungan, investasi, cicilan, dana darurat, serta perlindungan risiko seperti asuransi.

Setelah itu, barulah sisa pendapatan digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari yang bisa dibagi lagi ke dalam berbagai pos seperti transportasi, komunikasi, dan belanja dapur.

“Total anggaran itu sebenarnya tidak boleh melebihi dari pendapatan kita,” tutur Mike Rini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pendeta dan Ustadz Poso Akui Ceramah JK Sesuai Fakta Konflik
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Barito Renewables Pacu Ekspansi, Kejar Target 1 GW dari Panas Bumi
• 14 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
3 Kisah Penyamaran Kopassus Paling Melegenda, Ada yang Jadi Sopir hingga Mayat
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Trump Sebut Posisi AS Sangat Kuat Jelang Negosiasi Lanjutan dengan Iran
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kolaborasi KY, KPK, dan PPATK Perketat Penelusuran Keuangan Calon Hakim Agung
• 13 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.