KOMPAS.com - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan dukacita atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato penutupan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 DPR RI, Selasa (21/4/2026).
“Atas nama Pimpinan dan segenap Anggota DPR RI, perkenankanlah saya menyampaikan dukacita yang mendalam atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya, Sertu M Nur Ichwan, dan Praka Farizal Romadhon saat melaksanakan misi kemanusiaan di Lebanon,” kata Puan dalam Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia berharap para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Seperti diketahui, ketiga prajurit tersebut gugur saat menjalankan tugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) pada akhir Maret lalu, di tengah eskalasi konflik antara militer Israel dan Hizbullah.
Terkait peristiwa itu, Puan menegaskan pentingnya investigasi yang kredibel bersama PBB untuk mengungkap fakta secara objektif.
Baca juga: Surabaya Hapus Denda PBB, Berlaku hingga 30 April, Ini Syaratnya
“Upaya ini berlandaskan pada prinsip-prinsip utama misi perdamaian PBB, yaitu transparansi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia,” ujarnya.
Puan juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penugasan prajurit TNI di wilayah konflik, mulai dari kejelasan mandat hingga perlindungan maksimal bagi personel.
“Ini sesuai dengan standar praktik terbaik internasional dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB yang menuntut kesiapan dari aspek politik, kapasitas, dan lingkungan operasi,” imbuhnya.
Dampak konflik globalSelain menyampaikan duka, Puan juga mewanti-wanti dampak eskalasi konflik global, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang terus memanas.
Menurutnya, konflik tersebut telah memberikan tekanan nyata terhadap perekonomian global dan nasional.
“Konflik ini berisiko mendorong lonjakan harga energi, memperburuk inflasi global, serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan keuangan dunia,” kata Puan.
Baca juga: Akses Pembiayaan Jadi Kunci UMKM Lebih Tahan Tekanan Ekonomi, Pendapatan Naik hingga 63 Persen
Ia menyebut dampak tersebut mulai terasa di dalam negeri, antara lain melalui kenaikan harga bahan bakar minyak, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, kenaikan harga kemasan berbahan plastik, terganggunya rantai pasok komoditas, hingga meningkatnya ketidakpastian investasi.
“Perang yang terjadi jauh dari wilayah negara kita, tetapi dampaknya langsung terasa di dalam negeri melalui harga, daya beli, dan stabilitas ekonomi,” ungkap Puan.
Untuk itu, Puan menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup.





