JAKARTA, KOMPAS.com - Antrean panjang di butik resmi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kini tidak hanya menjadi potret tingginya minat masyarakat terhadap emas, tetapi juga melahirkan pola baru dalam bertransaksi.
Di tengah keterbatasan waktu dan stok, sebagian warga memilih menggunakan jasa titip (jastip), bahkan rela membayar hingga Rp 100.000 per gram demi menghindari antrean.
Fenomena ini berkembang pesat di kawasan perkotaan, terutama di Jakarta, ketika kebutuhan investasi bertemu dengan keterbatasan akses langsung ke produk logam mulia. Bagi sebagian orang, jastip bukan sekadar alternatif, melainkan solusi utama.
Mutia (32), karyawan swasta di Jakarta Timur, menjadi salah satu contoh konsumen yang mengandalkan jastip untuk membeli emas.
Baca juga: Saya Harus Ulang Semester, Rugi Banget Cerita di Balik Mahasiswa Pakai Joki TOEFL
Ia mengaku sudah beberapa kali menggunakan jasa tersebut karena kesibukan kerja membuatnya tidak mungkin datang pagi-pagi ke butik.
“Saya kerja dari pagi sampai sore. Kalau harus antre dari subuh, saya enggak sanggup. Belum tentu juga dapat,” kata Mutia saat ditemui di sebuah kafe kawasan Matraman, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, antrean panjang sering kali tidak sebanding dengan hasil. Gram kecil yang paling diminati biasanya sudah habis sebelum ia sempat mendapatkan giliran.
Kondisi ini membuatnya lebih memilih menitip pembelian meski harus membayar lebih mahal.
Mutia mengaku hanya menggunakan jasa dari orang yang dikenal, yakni rekan kantor. Faktor kepercayaan menjadi pertimbangan utama karena transaksi emas melibatkan nominal yang tidak kecil.
Ia biasanya membeli emas ukuran kecil, seperti 1 gram hingga 2 gram, dan sesekali 5 gram jika kondisi keuangan memungkinkan.
Baginya, emas menjadi bentuk investasi bertahap yang lebih mudah dijangkau.
“Biasanya saya beli 1 gram atau 2 gram. Kalau lagi ada rezeki baru 5 gram,” ujar dia.
Ia menyadari adanya selisih harga antara pembelian langsung di butik dan melalui jastip. Namun, selisih tersebut dianggap sebagai biaya jasa yang sepadan dengan waktu yang dihemat.
“Kalau selisihnya Rp 50.000 sampai Rp 100.000 saya masih oke. Itu kan bayar jasa orang antre,” kata Mutia.
Baca juga: Penjoki TOEFL: Lucunya Pelanggan Tak Mau Nilai 600, Takut Dicurigai
Hal serupa disampaikan Ayu (28), ibu rumah tangga di Bekasi. Ia mengaku mulai membeli emas melalui jastip karena ingin menabung, tetapi tidak memahami prosedur pembelian langsung di butik dan tidak memungkinkan mengantre karena harus mengurus anak.
Ayu mengenal jastiper dari lingkungan sekitar, yakni tetangganya sendiri. Kedekatan tersebut membuatnya merasa lebih aman dibanding bertransaksi secara online dengan orang yang tidak dikenal.
“Jastipnya tetangga sendiri. Jadi saya percaya, soalnya orangnya jelas dan tiap hari ketemu,” kata Ayu saat dihubungi.
Ia biasanya membeli emas 1 gram sebagai bentuk tabungan bertahap. Baginya, emas dipilih karena nilainya dianggap lebih stabil dibanding uang tunai.
Meski harga melalui jastip lebih tinggi, Ayu menilai selisih tersebut wajar karena ia tidak perlu keluar rumah dan mengantre panjang.
“Kalau bedanya cuma Rp 50.000 atau Rp 100.000 saya masih oke. Saya enggak perlu capek antre,” kata Ayu.
Pengalaman serupa dialami Tisna (37), ibu rumah tangga di Jakarta Timur. Ia mengaku pernah mencoba membeli langsung di butik, tetapi gagal mendapatkan emas karena stok habis.





