HARIAN FAJAR, SURABAYA – Kritik pedas mulai menghujani manajemen Persebaya Surabaya terkait kebijakan di bursa transfer. Bonek gerah, karena Green Force terlalu sering berjudi dalam merekrut pemain asing. Ujung-ujungnya, hasilnya zonk!
Keresahan ini memuncak setelah akun fanbase @onlinepersebaya membeberkan data pola rekrutmen Bajul Ijo dalam beberapa musim terakhir. Manajemen dinilai belum belajar dari kegagalan masa lalu dan terus terjebak dalam pola pencarian pemain yang berisiko tinggi.
Persebaya kerap mendatangkan pemain asing yang sama sekali buta akan atmosfer Liga Indonesia. Padahal performa mereka di bawah ekspektasi.
“Lebih baik keluar sedikit lebih banyak untuk membajak pemain dari tim lawan yang sudah terbukti, daripada tiap tahun gambling ambil pemain dari luar Liga Indonesia,” tulis unggahan tersebut.
Suporter merasa kebijakan klub seolah tidak memiliki arah yang jelas dalam jangka panjang. Kritik ini bukan tanpa dasar; pola “judi” pemain asing ini disebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa evaluasi signifikan.
“Apakah salah ambil pemain asing dari luar Liga Indonesia? Tidak. Tapi kalian sudah bertahun-tahun gagal,” tegas kritik tersebut, menggambarkan kekecewaan mendalam atas hasil “zonk” yang sering didapat.
Meski ada nama-nama yang sukses beradaptasi seperti Taisei Marukawa, Bruno Moreira, hingga Slavko Damjanovic, jumlah pemain asing yang gagal memenuhi harapan jauh lebih banyak. Sebaliknya, rekrutan yang sudah memiliki jam terbang di kompetisi domestik terbukti jauh lebih stabil dan konsisten.
Sebut saja David Da Silva, Makan Konate, Ze Valente, hingga Mohammed Rashid. Mereka adalah bukti nyata bahwa faktor adaptasi adalah kunci.
“Pemain yang sudah pernah bermain di Liga Indonesia lebih cepat menyatu dengan permainan tim,” tambah ulasan tersebut.
Masalah Klasik: Dominasi Tanpa Gol
Kritik mengenai kebijakan transfer ini terasa semakin relevan jika melihat performa terbaru Persebaya di lapangan. Saat bentrok kontra Madura United, dominasi total Green Force seolah sia-sia. Persebaya mencatatkan penguasaan bola hingga 72 persen dengan 23 tembakan, namun hanya enam yang tepat sasaran.
Efektivitas di lini depan kembali menjadi momok. Pelatih Bernardo Tavares sendiri tidak menampik bahwa ketajaman barisan penyerangnya masih jauh dari kata memuaskan.
“Memang ini menjadi masalah ketika kami tidak bisa mencetak gol. Kami menciptakan banyak peluang, tetapi akurasinya masih kurang. Itu yang harus kami perbaiki,” ujar Tavares lesu.
Ia menambahkan bahwa meski dinamika permainan sudah berkembang, keberuntungan dan insting gol masih menjadi pembeda. “Terkadang kami kurang beruntung. Ada tembakan yang diblok, ada yang keluar, atau peluang yang tidak berbuah gol,” lanjutnya.
Persebaya di Persimpangan Jalan
Bagi Bonek, kemandulan lini depan dan kekalahan menyakitkan bukanlah kebetulan semata. Ada benang merah yang menghubungkan kebijakan transfer yang minim pengalaman dengan inkonsistensi tim di kompetisi.
Manajemen kini dituntut untuk melakukan evaluasi total. Rekam jejak pemain di kompetisi domestik seharusnya menjadi pertimbangan utama guna meminimalkan risiko adaptasi yang panjang.
Tekanan suporter adalah sinyal kuat. Bonek ingin Persebaya kembali ke kasta tertinggi sebagai petarung juara, bukan sekadar laboratorium eksperimen pemain asing baru. (*)





