Saat memasuki usia dewasa, rasanya lingkaran pertemanan semakin mengecil. Berbeda dengan dulu sewaktu sekolah atau kuliah, ada saja teman yang setiap hari bisa diajak nongkrong bareng, berbagi cerita, atau sekadar menghabiskan waktu.
Begitu masuk dunia kerja, berkeluarga, atau sibuk mengejar tujuan hidup masing-masing, pelan-pelan daftar teman dekat makin berkurang. Kondisi ini bukan semata karena hubungan yang renggang, melainkan ada perubahan ritme hidup yang membuat kondisi pertemanan ikut berubah.
Meskipun lingkaran pertemanan semakin sempit, setiap orang tentu punya cara masing-masing untuk menjaga hubungan tetap hangat, termasuk bagi sejumlah teman kumparan. Nah, kalau kamu sedang mengalami hal serupa, yuk kepoin cerita mereka di bawah ini!
Friendship Maintenance Saat Dewasa ala teman kumparanMemasuki usia 20-an, banyak orang mulai merasakan lingkaran pertemanan yang makin menyempit. Hal ini juga dialami oleh salah satu teman kumparan, Putri Fahtia (21).
Menurutnya, perubahan ini terjadi karena pola pikir yang semakin dewasa. Dengan begitu, kamu jadi lebih paham mana teman yang benar-benar saling support dan mana yang nggak.
Putri sendiri mengaku lebih memilih punya sedikit sahabat, tapi memberi impact positif. Buatnya, jumlah bukan yang utama, yang penting kualitas dan kenyamanan dalam hubungan.
“Karena pertemanan nggak perlu banyak, asal kompak dan punya arah bareng, bukan untuk saingan,” katanya.
Dengan circle yang makin kecil, Putri punya beberapa cara supaya pertemanannya tetap terjaga, antara lain:
Jaga komunikasi dengan rutin saling bertanya kabar
Cari aktivitas baru yang bisa dilakukan bareng, seperti jalan atau memasak
Kasih kejutan kecil ke teman tanpa harus diminta
Di sisi lain, Faisal Saputro (20) punya pandangan serupa soal pertemanan di usia dewasa. Menurutnya, makin dewasa, waktu dan energi otomatis terbagi ke banyak hal, mulai dari pekerjaan, kuliah, sampai fokus ke diri sendiri. Akibatnya, jadwal untuk sekadar ketemu teman jadi makin sulit.
Nggak cuma karena kesibukan, Faisal juga merasa standar dalam memilih teman ikut berubah. Ia kini lebih selektif dan hanya berteman dengan orang yang benar-benar nyambung, baik dari cara komunikasi maupun pola pikir.
Menariknya, Faisal justru melihat konflik sebagai bagian penting dalam menjaga hubungan. Ia percaya, pertemanan yang sering diuji lewat perbedaan atau bahkan pertengkaran justru bisa jadi lebih kuat. “Setelah dipikir-pikir, semakin sering berantem itu malah bisa bikin lebih dekat. Aneh ya? Tapi nyata,” ujarnya.
Sebagaimana dijelaskan dalam laman Women’s Health. Konflik dalam pertemanan sebenarnya bisa mempererat hubungan. Sebab, ketika masalah dibahas secara terbuka sampai tuntas, kedua pihak cenderung jadi lebih saling memahami dan menghargai satu sama lain.
Cerita serupa juga datang dari Nadia Putri Ramadhani (29). Saat ini, ia hanya punya beberapa teman dekat. Sebab, setiap temannya sudah punya prioritas sendiri, ada yang fokus kerja, menikah, pindah kota, atau sibuk dengan keluarga.
“Dulu mungkin senang kenal banyak orang, tapi makin ke sini aku lebih menghargai hubungan yang tulus dan bikin nyaman,” tuturnya.
Bagi Nadia, pertemanan nggak harus diukur dari seberapa sering bertemu atau chatting setiap hari. Yang lebih penting adalah adanya rasa saling support dan nyambung saat ngobrol.
Hal sederhana seperti saling memberi kabar, mengucapkan ulang tahun, atau menyempatkan waktu untuk bertemu sudah cukup untuk menjaga hubungan tetap hangat.
Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan teman baru di komunitas teman kumparan. Klik kum.pr/temankumparan





