Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Menjelang keberangkatan jamaah Haji 1447 H/2026 M, perhatian tertuju pada kesiapan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia yang untuk pertama kalinya mengelola penyelenggaraan ibadah haji. Momentum ini menjadi ujian awal dalam menghadirkan layanan yang lebih baik, aman, dan berpihak pada jamaah.
Kader Muda Muhammadiyah, Ivansyah Hafif Harahap, mengingatkan pentingnya memahami esensi ibadah haji sebagai bentuk penghambaan, bukan sekadar ritual tahunan.
“Tahun ini dan yang akan datang, penyelenggaraan haji sudah dibawah kementerian yang baru dan akan melaksanakan hajatan pertama dalam menciptakan suksesnya haji di Indonesia yakni Kementerian Haji dan Umrah,” sebut Ivansyah, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa, 21 April 2026.
Ia menilai kehadiran kementerian baru membawa optimisme bagi peningkatan kualitas layanan jamaah. Kebijakan yang diambil dinilai mulai berpihak, termasuk penurunan biaya haji serta percepatan antrean.
“Terlebih kementerian yang baru dibentuk ini atas semangat asta cita bapak presiden, sudah mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada jamaah haji, diantaranya adalah turunnya biaya haji serta antrean yang kini dipercepat dan disamaratakan menjadi 26 Tahun menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan ideologi dasar Negara Indonesia,” terangnya.
*Refleksi Ibadah dan Harapan Jamaah*
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib bagi umat Islam yang mampu secara fisik, mental, dan kesiapan lainnya. Pelaksanaannya berlangsung di Mekkah pada bulan Zulhijjah dengan rangkaian ritual seperti tawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah yang memiliki nilai sejarah panjang sejak masa Nabi Ibrahim AS.
Menjelang keberangkatan, jamaah membawa harapan besar agar ibadah berjalan lancar dan mencapai kemabruran. Penantian panjang yang dilalui menambah makna spiritual perjalanan ini.
Ivansyah mengingatkan pentingnya pemahaman mendalam tentang makna haji mabrur, bukan sekadar mengejar status.
“Ada kutipan yang menarik, ‘seringkali semangat beragama yang berlebihan menyeret seorang hamba kepada amalan yang justru berbalik menjadi hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Mencari Ridha Allah sendiri. Bahkan, sekedar keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan gelar haji mabrur sering cukup membuat individu menjadi sangat egois. Bayangkan bila jutaan orang egois berkumpul jadi satu dengan satu kepentingan. Karenanya, pelajarilah manasik dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW’.”
*Masa Depan Perputaran Ekosistem Ekonomi Haji*
Transformasi kelembagaan juga membuka peluang baru dalam pengelolaan ekonomi haji. Peralihan kewenangan dari Kementerian Agama ke Kementerian Haji dan Umrah menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi ekonomi.
Perputaran dana haji setiap tahun mencapai puluhan triliun rupiah. Sebagian besar masih mengalir ke luar negeri, sehingga perlu strategi untuk meningkatkan kontribusi bagi ekonomi nasional, termasuk melalui sistem pembayaran domestik dan penguatan ekspor ke Arab Saudi.
Melihat lebih dalam: Persiapan Haji yang matang oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia
Sebagai penyelenggaraan perdana, persiapan dilakukan secara intensif. Fokus utama mencakup peningkatan keamanan jamaah, pengetatan pemeriksaan kesehatan, serta penyediaan layanan ramah bagi lanjut usia, penyandang disabilitas, dan perempuan.
Koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar seluruh proses berjalan terintegrasi. Langkah cepat dalam pengambilan kebijakan diharapkan mampu menjawab kebutuhan jamaah secara nyata.
Ivansyah mengajak seluruh masyarakat mendukung penyelenggaraan haji tahun ini agar berjalan lancar.
Penyelenggaraan Haji 2026 diharapkan tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman ibadah yang khusyuk dan bermakna bagi seluruh jamaah Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews





