Penulis: Rini
TVRINews, Banjarmasin
Kenaikan harga gas elpiji non-subsidi per 18 April lalu yang mencapai rata-rata 20 persen dari harga normal mencatatkan rekor kenaikan tertinggi. Kondisi tersebut mulai berdampak signifikan terhadap menurunnya tingkat daya beli masyarakat.
Berdasarkan data terbaru dari PT Pertamina Patra Niaga, harga gas elpiji non-subsidi di wilayah Kalimantan Selatan saat ini mengalami penyesuaian yang cukup tajam. Di tingkat agen atau pangkalan, Bright Gas ukuran 5,5 kilogram yang sebelumnya dijual seharga Rp97.000 kini naik menjadi Rp114.000, atau mengalami peningkatan sebesar Rp17.000. Sementara itu, Bright Gas ukuran 12 kilogram yang sebelumnya seharga Rp202.000 mengalami kenaikan sebesar Rp36.000 menjadi Rp238.000.
Pemilik agen pangkalan gas elpiji di Jalan Veteran Banjarmasin, Adi Chandra, menyampaikan bahwa lonjakan harga gas non-subsidi ini sangat berpengaruh pada permintaan konsumen. Menurutnya, kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
“Per 18 April, Bright Gas 5,5 kilogram yang sebelumnya Rp97.000 naik menjadi Rp114.000 atau sekitar 20 persen. Sementara Bright Gas 12 kilogram dari Rp202.000 menjadi Rp238.000, naik Rp36.000. Ini menjadi salah satu kenaikan tertinggi yang pernah terjadi,” jelas Adi saat ditemui pada Selasa, 21 April 2026.
Pihak agen gas elpiji juga mengharapkan pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap penyaluran gas agar lebih tepat sasaran. Besarnya disparitas harga antara gas subsidi dan non-subsidi, ditambah masih mudahnya akses gas subsidi oleh pihak yang tidak berhak, dinilai berpotensi memicu peralihan penggunaan gas bersubsidi oleh masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews





