Jakarta, VIVA – Kabar terbaru soal minuman manis kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan resmi memperkenalkan sistem “rapor gizi” atau Nutri Level yang akan menilai kandungan gula, garam, dan lemak pada minuman siap saji.
- Tangkapan layar YouTube TV Parlemen
Kebijakan ini langsung menjadi sorotan publik karena dianggap memudahkan konsumen memilih minuman yang lebih sehat. Diketahui, Aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan siap saji yang diterbitkan pada Selasa, 14 April 2026
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi memperkenalkan label Nutri-Level sebagai panduan untuk membantu masyarakat memahami kandungan gula dalam minuman cepat saji.
Melalui label ini, masyarakat diharapkan lebih sadar dalam memilih minuman dan mengontrol asupan gula. Kebijakan ini akan diterapkan bertahap pada minuman kemasan dan siap saji, sebagai upaya untuk mencegah obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.
Dalam aturan baru ini, setiap minuman manis akan diberi label dengan kategori huruf A hingga D. Sistem tersebut menggunakan warna berbeda sebagai penanda tingkat kandungan gula dan zat lainnya, mulai dari hijau tua untuk kategori paling sehat hingga merah untuk kandungan tertinggi.
Minuman dengan label A berarti memiliki kadar gula paling rendah, sedangkan D menunjukkan kadar yang paling tinggi. Semakin mendekati huruf A, maka semakin baik nilai gizinya.
Setelah kabar ini beredar, media sosial langsung dipenuhi beragam komentar. Namun menariknya, mayoritas warganet justru menyambut positif kebijakan tersebut. Banyak yang menilai sistem “rapor gula” ini bisa membantu masyarakat lebih sadar terhadap pola konsumsi harian.
"Mantap pak, saya setuju dengan aturannya," tulis warganet dalam komentar di media sosial yang membahas ini.
- Pixabay
"Nah seperti ini bagus, dikasih label, semoga lancar kebijakannya," timpal warganet lainnya.
Dengan adanya sistem penilaian ini, masyarakat kini bisa lebih mudah “membaca” minuman yang mereka konsumsi sehari-hari. Pemerintah berharap, ke depan kesadaran terhadap konsumsi gula bisa meningkat dan angka penyakit akibat pola makan tidak sehat dapat ditekan.





