Jemaah calon haji gelombang pertama yang tergabung dalam kelompok terbang 1 dan 2 meninggalkan Makassar pada Rabu (22/4/2026). Setelah penantian hingga belasan tahun, jemaah berharap seluruh rangkaian ibadah haji berjalan lancar.
Jemaah dilepas di Aula Mina Asrama Haji Makassar, Selasa (21/4/2026) malam menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Mereka selanjutnya diterbangkan menuju Madinah pada Rabu.
Pasangan suami istri Muslam Conang (64) dan A Monita Sulolipu (64) adalah dua di antara ratusan jemaah itu. Mereka asal Kabupaten Soppeng dan berangkat dalam kloter 1.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa berangkat setelah penantian selama 14 tahun. Bersyukur ada aturan baru terkait daftar tunggu hingga kami akhirnya bisa berangkat tahun ini. Kalau tidak, tiga tahun lagi baru kami bisa berangkat,” kata Muslam.
Monita, menyebut, setelah penantian panjang yang dilalui penuh kesabaran hingga cemas, dia berharap seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.
”Itu saja harapan kami. Bisa beribadah dengan mudah, lancar, dan diberi kesehatan lalu pulang menjadi haji mabrur,” katanya.
A Tenri (60) jemaah lain, punya harapan yang sama. “Setelah 13 tahun menunggu, tentu berharap semua berjalan lancar hingga kembali ke tanah air. Saya juga berterimakasih atas pelayanan selama proses keberangkatan yang memudahkan kami,” tuturnya.
Tahun ini memang banyak yang berubah dari layanan haji. Salah satunya penyediaan kartu nusuk yang sudah dipegang jemaah dan diverifikasi sejak di embarkasi. Tahun lalu, kartu nusuk dibagikan saat jemaah tiba di Arab Saudi.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Sulsel H Ikbal Ismail mengatakan, dengan mekanisme itu, saat tiba di Arab Saudi, jemaah sudah memegang kartu nusuk.
”Kartu ini sangat diperlukan terutama saat pelaksanaan puncak haji yakni wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan Mina,” kata dia.
Nusuk adalah identitas digital resmi berbentuk kartu pintar yang wajib bagi jemaah calon haji. Diterbitkan Arab Saudi sejak 2024, kartu ini memverifikasi visa dan akses ke Mekkah serta Armuzna.
Kartu ini memuat data personal (nama, paspor, hotel) dan QR code/chip yang dipindai petugas untuk mencegah jamaah ilegal. Kartu ini wajib dibawa jemaah selama berhaji.
Layanan lain yang tak kalah penting dan baru pertama kali dilakukan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makasaar adalah Mecca Route.
Ini adalah layanan yang memungkinkan pemeriksaan keimigrasian Arab Saudi dilakukan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Makassar.
General Manager Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Ruly Artha, mengatakan, dengan layanan ini, setibanya di Arab Saudi, jemaah tidak perlu melalui proses pemeriksaan imigrasi.
”Hal itu membuat waktu kedatangan menjadi lebih efisien dan mereka bisa langsung melanjutkan ibadah”, kata Ruly.
Tahun ini, ada 16.750 jemaah yang akan diberangkatkan dari Embarkasi Makassar. Saat ini Embarkasi Makassar melayani pemberangkatan dan pemulangan jemaah tak hanya dari Sulsel.
Embarkasi ini melayani juga jemaah dari Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Ada juga jemaah dari Embarkasi Antara, yakni Gorontalo dan Maluku.





