Hadir sebagai ruang berkumpulnya energi, cerita, dan kolaborasi dalam pendidikan, Belajaraya menjadi tempat dalam mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pendidik, murid, komunitas, organisasi pendidikan, pemerintah, sektor swasta, hingga media.
Belajaraya Jakarta akan digelar pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dengan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan, mulai dari kesenjangan akses belajar, kualitas pembelajaran yang belum merata, hingga kebutuhan keterampilan baru di tengah perubahan zaman.
Sejak diinisiasi oleh Semua Murid Semua Guru pada 2016, Belajaraya telah menghimpun lebih dari 1.000 Komunitas dan Organisasi Pendidikan (KOP) untuk berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, dan mendorong kolaborasi nyata. Pada tahun ini, Belajaraya 2026 mengangkat tema “Merayakan Kerja Barengan untuk Ekosistem Pendidikan”.
Rangkaian Belajaraya telah berjalan di berbagai kota seperti Bali, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, Kupang, dan penutupnya akan terselenggara di Jakarta, tepatnya di Taman Ismail Marzuki.
Belajaraya Jakarta akan menghadirkan berbagai ruang partisipasi publik seperti Ngobrol Publik, Kelas Belajar, Booth Komunitas, Pameran Karya, hingga Pertunjukan Musik yang membuka ruang belajar yang lebih inklusif, kolaboratif, dan menyenangkan bagi semua pihak.
Baca Juga: Askrindo Resmikan Mobil Pintar di Jambi untuk Dukungan Pendidikan Berkualitas Berkelanjutan
Belajaraya Jakarta menjadi penutup rangkaian Belajaraya 2026 dengan menghadirkan sejumlah tokoh publik lintas sektor untuk saling berbagi perspektif dan pesan penting terkait isu-isu pendidikan. Tokoh yang hadir antara lain Meutya Hafid (Menteri Komunikasi & Digital RI), Prof. Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI), Prof. M. Quraish Shihab & Najwa Shihab, Nikita Willy, Ryan Adriandhy dan berbagai musisi Tanah Air seperti Andien, Dere, Endah n Rhesa yang turut memeriahkan Belajaraya Jakarta 2026.
Tentunya, kehadiran berbagai tokoh lintas sektor ini dapat membawa sejumlah pesan utama, di antaranya pentingnya menjadikan kolaborasi sebagai fondasi penguatan pendidikan, perlunya upaya bersama lintas sektor dalam menghadapi tantangan pendidikan nasional, serta peran lebih dari 1.000 komunitas sebagai energi perubahan yang dipertemukan dalam satu ruang kolaboratif.
Marsya Nurmaranti, Ketua Umum Semua Murid Semua Guru mengatakan dalam sesi konferensi pers yang digelar bertepatan dengan Hari Kartini ini sebagai langkah awal memperkenalkan pelaksanaan festival pendidikan tahun ini sekaligus mengajak publik dan berbagai pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam memperkuat ekosistem pendidikan di Indonesia melalui semangat #KerjaBarengan.
“Melalui forum ini, Belajaraya menegaskan bahwa upaya memajukan pendidikan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama dari berbagai pihak,” kata Marsya dalam sambutannya pada Selasa, 21 April 2026.
Keberadaan ekosistem pendidikan yang sifatnya inklusi dan kolaboratif juga disampaikan oleh Najelaa Shihab, Pendidik & Inisiator Jaringan Semua Murid Semua Guru. Pada paparannya, Najelaa Shihab menyoroti Belajar Raya tahun ini sebagai tonggak penting dalam perkembangan gerakan pendidikan berbasis komunitas di Indonesia. Pertama kalinya, kegiatan ini hadir di sembilan kota melampaui capaian sebelumnya yang umumnya hanya menjangkau enam kota sejak dimulai pada 2015. Perluasan ini, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa inisiatif pendidikan tidak lagi terpusat di kota besar, melainkan mulai tumbuh di berbagai daerah, termasuk wilayah baru seperti Kupang yang menunjukkan karakter Belajar Raya sebagai gerakan regional yang inklusif.
“Di tengah perkembangan tersebut, saya melihat bahwa tantangan terbesar justru terletak pada cara pandang masyarakat terhadap pendidikan yang masih kerap disamakan dengan persekolahan formal. Padahal, melalui jaringan Semua Murid Semua Guru yang kini telah berkembang dari puluhan menjadi lebih dari seribu komunitas, upaya yang dilakukan adalah melengkapi dan mendorong perubahan di luar sistem formal dengan tujuan utama bukan sekadar capaian akademik, melainkan perubahan perilaku dan kontribusi nyata terhadap ekosistem yang lebih luas,” kata Najelaa.
“Di jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG), Komunitas dan organisasi pendidikan melakukan inovasi di ratusan kota dan kabupaten, melalui berbagai klaster kerja yang meliputi literasi, kepemimpinan dan kepemudaan, karakter, pengembangan guru, keluarga, teknologi pendidikan, pendidikan bagi kelompok marginal, lingkungan, seni, pendidikan inklusif, pendidikan lainnya, antikorupsi, toleransi, kesehatan, serta riset. Seluruh kegiatan para penggerak di SMSG, mendefinisikan ulang makna pendidikan melampaui ekosistem persekolahan, serta mengintegrasikan langkah secara kolektif guna memperbesar dampak pendidikan untuk mewujudkan perubahan masyarakat dan perbaikan dunia,” jelas Najelaa.
Baca Juga: Belajar dari Tutupnya Menantea, Pakar Hukum Jabarkan Pentingnya Kontrak dan Tata Kelola Bisnis
Rizki Ameliah, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Digital RI menyampaikan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia saat ini sangat dinamis, terutama karena pengaruh perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat. Tantangan utama yang dihadapi adalah pentingnya memperkuat kolaborasi, karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, universitas, pemerintah daerah, hingga platform digital diperlukan untuk bergerak bersama
“Pendidikan kita saat ini sangat dinamis, sehingga kunci utamanya adalah kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu bergerak bersama dengan komunitas, swasta, dan akademisi. Di tengah perkembangan teknologi, termasuk AI, kita tidak boleh takut, tetapi harus melek dan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan keterampilan diri,” papar Rizki Ameliah.
Sementara itu, Fenty Tirtasari Ekarina, Asisten Direktur, Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia mengungkapkan kehadiran Belajaraya 2026 ini juga menjadikan medium literasi yang tepat bagi masyarakat luas dalam memahami fungsi uang sebagai simbol negara. Pada kesempatan tersebut, Fenty juga menjelaskan Bank Indonesia menghadirkan program “Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah” untuk memperkuat literasi masyarakat. Program ini menekankan tiga nilai utama, seperti mengenali keaslian uang, menumbuhkan rasa bangga terhadap Rupiah sebagai simbol negara, serta memahami perannya sebagai alat pembayaran dan instrumen ekonomi. CBP menyasar semua kalangan melalui edukasi, komunikasi, dan kolaborasi.
“Edukasi menjadi kunci dalam program CBP Rupiah, di mana kami menghadirkan konten yang disesuaikan dengan setiap segmen masyarakat agar pemahaman tentang Rupiah bisa diterima secara luas dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Stefani Herlie, Country Lead, CANVA Indonesia menyoroti adanya peningkatan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, terlihat dari meningkatnya jumlah peserta didik di tingkat menengah. Meski demikian, tantangan utama masih terletak pada aksesibilitas, khususnya dalam penggunaan teknologi dan tools digital yang belum sepenuhnya inklusif bagi semua jenis disabilitas.
“Akses pendidikan bagi penyandang disabilitas terus membaik, namun tantangan berikutnya adalah memastikan tools dan teknologi yang tersedia benar-benar aksesibel bagi semua,” jelas Stefani.
Marthella Sirait, Pendiri & Ketua Eksekutif, KONEKIN menyoroti adanya kemajuan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, yang kini semakin banyak mencapai jenjang menengah. Namun, ia menekankan bahwa tantangan utama bergeser ke akses terhadap pengembangan keterampilan, terutama dalam hal tools digital, pelatihan yang inklusif, serta literasi digital dan bahasa Inggris yang masih terbatas.
“Akses pendidikan formal memang sudah lebih baik, tapi tantangannya sekarang ada pada akses skill dan tools yang benar-benar inklusif. Kita mungkin merasa semua orang bisa ikut pelatihan atau pakai platform digital, tapi belum tentu itu accessible untuk semua ragam disabilitas, dan ini yang akhirnya mempengaruhi kesiapan mereka masuk ke dunia kerja,” ungkap Marthella Sirait.
Riana Linda, Executive Director LAB Foundation by Lingkaran menekankan pentingnya kolaborasi lintas stakeholder dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat. Meski tantangan yang dihadapi cukup besar, peran setiap pihak mulai dari komunitas, organisasi, hingga sektor lainnya menjadi kunci dalam mendorong perkembangan pendidikan yang berkelanjutan. Ia juga melihat momentum kolaborasi seperti di Jakarta tidak hanya sebagai pertemuan sesaat, tetapi sebagai langkah awal untuk kerja sama jangka panjang dalam mewujudkan visi besar pendidikan di Indonesia.
“Kolaborasi antar stakeholder menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem pendidikan. Momentum seperti ini bukan hanya pertemuan sesaat, tetapi awal dari kolaborasi jangka panjang untuk mendorong perubahan yang berkelanjutan,” jelas Linda.
Baca Juga: PP TUNAS Dinilai Jadi Kunci Pulihkan Fokus Belajar Siswa dari Gangguan Adiksi Digital
Lebih dari sekadar acara, Belajaraya 2026 menjadi ruang temu yang mempertemukan berbagai inisiatif dan energi perubahan dalam pendidikan, sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi yang berkelanjutan dan partisipasi publik yang lebih luas.
Jangan sampai ketinggalan, ikuti segala informasi dan cerita inspirasi terbaru Belajaraya 2026 melalui kanal resmi akun Instagram @belajaraya.smsg atau @semuamuridsemuaguru. Informasi mengenai festival selengkapnya dan cara mendapatkan tiket Belajaraya Jakarta dapat mengakses laman resmi di https://ticketing.belajaraya2026.com




