Kafe Energi Positif, Ruang Berdaya Pekerja Disabilitas di Lampung

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Bagi penyandang disabilitas, mendapatkan pekerjaan tidak semudah yang kita bayangkan. Kepedulian dan komitmen pelaku usaha dalam memberikan kesempatan kerja bagi sangat penting agar kaum difabel bisa berdaya. Sebuah kafe di Lampung bisa menjadi contoh komitmen semacam itu.

Dengan cekatan, Irine Sadeli (30) membereskan piring dan gelas yang berada di atas meja tamu Kafe Energi Positif yang berada di sudut Kota Bandar Lampung, Lampung, Selasa (21/4/2026) siang. Penyandang down syndrome itu lantas membawa perabotan makanan tersebut ke pantri untuk dibersihkan.

Sehari-hari, Irene bekerja sebagai pramusaji kafe tersebut. Selain bertanggung jawab membersihkan perabotan makan para pengunjung, dia juga mencatat dan melayani pesanan pengunjung. Semua pekerjaan itu dia lakukan dengan sukacita seolah tak pernah merasa lelah dengan rutinitasnya sehari-hari.

Untuk sampai ke tempat kerjanya, setiap pagi, Irine berangkat bersama rekan kerjanya. Dia menempuh jarak sekitar 5 kilometer dari rumahnya yang berada di wilayah Tanjung Karang.

Dari pekerjaan yang dijalaninya selama tiga tahun terakhir, Irene mempunyai uang untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dia juga bisa membeli barang-barang impiannya.

”Aku betah kerja di sini. Aku sudah bisa beli laptop, handphone, dan tas,” ucapnya sambil tertawa bahagia di sela-sela kesibukannya bekerja.

Irine bukan satu-satunya penyandang disabilitas yang bekerja di Kafe Energi Positif. Sampai saat ini, ada lima difabel yang bekerja di sana. Selain menjadi pramusaji, ada juga yang bekerja di bagian dapur.

Salah satunya adalah Kadek Yoga (30), penyandang disabilitas intelektual yang sehari-hari bekerja di dapur Kafe Energi Positif. Kadek diberi tanggung jawab untuk menyiapkan bahan makanan hingga perlengkapan untuk memasak.

”Kalau pagi, aku panen bunga telang untuk dijadikan teh. Aku juga membantu iris-iris bahan dan cuci piring,” ucapnya.

Meski mengalami kendala dalam berkomunikasi, Kadek paham perintah yang diberikan oleh koki di dapur. Dia juga cekatan mengiris sayuran, mencuci piring, hingga membereskan dapur hingga tampak kinclong.

Maria Eliza selaku Supervisor Kafe Energi Positif yang juga pendamping pekerja disabilitas di tempat itu menuturkan, penyandang disabilitas mampu bekerja secara profesional. Dia menyebut, selama tiga tahun bekerja di kafe itu, mereka tidak pernah mengeluh lelah ataupun bolos kerja. 

”Mereka selalu datang tepat waktu dan sangat semangat bekerja,” kata Eliza.

Baca JugaPesan Kesetaraan dari ”Dapur Dif_able”

Sebelum bekerja, lima pekerja difabel yang ada di kafe tersebut sudah mendapat pelatihan kerja selama sekitar enam bulan. Mereka dilatih untuk bisa melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari menyiapkan bahan makanan, membereskan perlengkapan, hingga melayani pengunjung.

Setelah mendapatkan pembekalan, mereka mulai bekerja dengan didampingi. Durasi bekerja setiap pekerja difabel juga menyesuaikan kemampuannya, berkisar 4-6 jam dalam sehari.

Inklusi

Pendiri Kafe Energi Positif, Maria Novitawati, mengatakan, kafe itu didirikan sekitar tahun 2021 saat masa pandemi Covid-19. Awalnya, Maria yang juga seorang psikolog mendapat banyak keluhan dari keluarga tentang kondisi anak-anak mereka yang kesulitan mendapat tempat kerja setelah lulus sekolah.

Tidak sedikit yang mengalami depresi karena tidak punya aktivitas dan merasa tidak berdaya. Oleh karena itu, Maria berinisiatif untuk membangun usaha sebagai wadah untuk penyandang disabilitas.

Menurut Maria, kafe itu dibangun memang untuk memberikan kesempatan bagi para penyandang disabilitas dalam bekerja. Selain itu, kafe tersebut juga diharapkan menjadi pemantik tumbuhnya lingkungan masyarakat yang lebih inklusif.

”Dengan bekerja di sini, mereka tidak hanya bergaul dengan sesama penyandang disabilitas, tetapi juga bisa berinteraksi dengan masyarakat luas,” kata Maria.

Maria pun berharap masyarakat akan lebih menerima keberadaan para penyandang disabilitas dalam pergaulan. Sebagai sesama manusia, mereka tentu tak boleh dianggap sebelah mata.

Selama ini, dia menyebut, memang belum banyak penyandang disabilitas yang bisa berkiprah di sektor formal. Kalaupun ada beberapa orang yang diterima bekerja di perusahaan, tidak banyak yang mampu bertahan lama menjadi karyawan. 

Dengan bekerja di sini, mereka tidak hanya bergaul dengan sesama penyandang disabilitas, tetapi juga bisa berinteraksi dengan masyarakat luas.

Berbagai keluhan yang kerap muncul, antara lain, terkait profesionalitas pekerja penyandang disabilitas. Selain dicap lamban, mereka juga disebut sering menjadi tidak fokus bekerja saat merasa lelah.

Untuk itu, para penyandang disabilitas harus mendapat pelatihan intensif sebelum bekerja secara profesional. Sebelum bekerja, mereka harus menjalani pelatihan untuk mengasah keterampilan.

Maria berharap kehadiran Kafe Energi Positif bisa menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain yang ingin membantui kelompok disabilitas.

”Kafe ini dibangun untuk memberikan lapangan pekerjaan untuk mereka (disabilitas). Tentu bukan karena kasihan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu bekerja. Kafe ini juga dikelola dengan standar pelayanan yang baik untuk menunjukaan bahwa pekerja disabilitas dan nondisabilitas bisa bekerja sama dengan baik,” katanya.

Baca JugaPenyandang Disabilitas Belum Banyak Diakomodasi di Badan Usaha

      

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendiktisaintek Dorong Konsorsium Nasional Satelit untuk Perkuat Kedaulatan Komunikasi
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Krisis Global Hantam Industri Printing Indonesia, Harga Bahan Baku Melonjak 20%, Inovasi Jadi Kunci
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Khofifah Doakan Kelancaran Ibadah Jemaah Haji di Tengah Cuaca Ekstrem Arab Saudi
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
BMKG Jelaskan Alasan Hujan Masih Sering Turun saat Kemarau Mulai
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Kemenhut: Permenhut 6/2026 Beri Kemudahan Masyarakat Lokal Kelola Bisnis Karbon
• 12 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.