JAKARTA, KOMPAS.TV - Pertanyaan terkait mengapa hujan masih sering turun meski musim kemarau disebut sudah dimulai masih terus bermunculan.
Menanggapi hal tersebut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan kondisi itu bukan sesuatu yang aneh, melainkan normal terjadi pada fase peralihan musim yang saat ini masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia.
"Ini bukan 'aneh', tapi normal. Saat ini kita masih di fase peralihan, jadi belum semua wilayah masuk musim kemarau," tulis @infobmkg, Selasa (21/4/2026).
Per awal April 2026, baru 7,8 persen wilayah Indonesia yang benar-benar masuk musim kemarau.
Dari total 699 zona musim (ZOM) yang dipantau BMKG, sebanyak 531 ZOM atau 76 persen masih berada dalam musim hujan, sementara hanya 55 ZOM yang sudah memasuki kemarau.
Baca Juga: 7 Wilayah Waspada Hujan Lebat Rabu Ini, BMKG Sebut Tekanan Rendah Ancam Selatan Yogyakarta
Kemarau Bukan Berarti Tanpa HujanBMKG juga meluruskan kesalahpahaman soal definisi musim kemarau. Kemarau tidak berarti hujan berhenti sama sekali.
Secara ilmiah, musim kemarau baru ditetapkan ketika curah hujan kurang dari 50 mm per 10 hari atau satu dasarian, dan kondisi itu berlanjut selama tiga dasarian berturut-turut.
Di luar ambang batas itu, hujan tetap bisa turun meski intensitasnya lebih jarang.
Kemarau juga tidak datang serentak di seluruh Indonesia. Musim kemarau dibawa angin monsun Australia yang bergerak dari selatan ke utara. Berikut prediksi jadwal kedatangannya:
- April hingga Mei: NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah
- Juni: sebagian besar Sumatera
- Juli: sebagian Kalimantan dan Sulawesi
Penulis : Danang Suryo Editor : Gading-Persada
Sumber : @infobmkg
- BMKG
- musim kemarau
- musim hujan
- fase peralihan
- ZOM
- monsun Australia





