Potret Guru Honorer Jakarta: Gowes 6 Km, Gaji Rp 2 Juta, dan Tekanan Biaya Hidup

kompas.com
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — Mengabdi sebagai seorang guru adalah jalan mulia yang tak selalu mudah dijalani.

Bagi Abdul Azis (45), guru honorer di MI Nurul Islam 1 Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, ada pengorbanan besar di balik misinya mendidik putra-putri bangsa.

Setiap hari, guru pengampu mata pelajaran Akidah Islam, Fikih, dan Kesenian itu berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda lipat sambil membonceng putri sulungnya, Azalea (11).

Putrinya yang kini duduk di kelas IV SD juga bersekolah di tempat Azis mengajar.

Baca juga: Perjuangan Guru Kembar Irianingsih dan Rossyati Mendirikan Sekolah Darurat Kartini

Sepeda lipat berwarna merah yang digunakannya tampak kusam, dengan karat di bagian gir, rantai, hingga dudukannya.

Sepeda kecil itu sebenarnya bukan miliknya, melainkan pinjaman dari sang keponakan.

Namun, sejak November 2025, sepeda itu menjadi satu-satunya alat transportasi Azis setelah sepeda motor miliknya hilang dicuri di depan rumah.

Ironisnya, kehilangan itu terjadi di tengah kebahagiaan keluarga menyambut kelahiran anak kedua.

"Awalnya saya ada kendaraan motor tua, tapi ya di bulan November motor saya hilang. Pas berbarengan dengan diberikannya rezeki pada saya yaitu anak yang kedua," ucap Azis saat ditemui Kompas.com di tempatnya mengajar, Rabu (22/4/2026).

Setiap pagi pukul 05.30 WIB, Azis berangkat dari rumah kontrakannya di kawasan padat penduduk di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.

Baca juga: Guru Menangis di Sidang Nadiem, Cerita Sekolahnya Jadi Hebat Usai Dapat Chromebook

Jalan di depan rumahnya hanya cukup dilalui satu sepeda motor.

Ia menempuh perjalanan sekitar enam kilometer menuju Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1 di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Perjalanan itu tidak mudah. Azis harus berbagi jalan dengan truk-truk kontainer besar.

Ia menghabiskan sekitar 30 menit untuk tiba di sekolah, melewati pasar, jalan raya, hingga tanjakan yang kerap memaksanya turun dan menuntun sepeda, sementara putrinya tetap duduk di jok belakang.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kadang anak saya juga bilang, 'Abi hati-hati awas ada mobil besar, minggir dikit.' Bahkan kadang kami turun dari sepeda untuk menghindari mobil besar, jadi kami ambil jalan trotoar," kata Azis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Jabar Tetap Kenakan Pajak Kendaraan Listrik, Ini Alasannya!
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Hari Konsumen Nasional, Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya Berikan Layanan Nyaman untuk Pelanggan
• 17 menit lalurealita.co
thumb
BI Catat Transaksi QRIS Tumbuh 119% di Q1-2026
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jelang Lawan Newcastle, Arsenal Cemas Tunggu Kondisi Calafiori
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Donghae Super Junior Comeback dengan Perilisan Full Album ALIVE
• 8 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.