EtIndonesia — Situasi politik dan militer di Iran mengalami perubahan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah analisis terbaru menyebutkan bahwa kekuasaan di dalam negeri Iran kini bergeser secara cepat ke tangan militer, khususnya Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang diduga telah mengambil alih kendali strategis negara.
Perubahan ini dinilai berpotensi mengubah arah konflik dengan Amerika Serikat serta memperbesar risiko eskalasi di kawasan Timur Tengah.
Think Tank Washington: Garda Revolusi Kuasai Kendali Negara
Pada 18 April 2026, lembaga think tank berbasis di Washington, War Institute, merilis laporan terbaru terkait struktur kekuasaan Iran. Dalam analisis tersebut disebutkan bahwa dalam waktu 48 jam terakhir, Komandan Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Vahidi, bersama lingkaran elitnya, secara de facto telah menguasai dua sektor paling vital: militer dan diplomasi luar negeri.
Langkah ini menunjukkan adanya pergeseran kekuasaan dari struktur pemerintahan sipil menuju dominasi militer. Tim negosiasi Iran yang sebelumnya berada di bawah pengaruh pemerintah sipil kini dinilai tidak lagi memiliki otonomi nyata.
Serangan di Selat Hormuz dan Penutupan Jalur Strategis
Perubahan tersebut langsung diikuti oleh langkah militer yang agresif. Dalam waktu hampir bersamaan, Angkatan Laut Garda Revolusi melancarkan serangan terhadap kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz, sekaligus mengumumkan penutupan total jalur tersebut.
Keputusan ini secara langsung bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sehari sebelumnya—17 April 2026—menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali.
Kontradiksi ini memperkuat dugaan bahwa kendali kebijakan strategis Iran kini telah berpindah tangan.
Iran Tolak Perundingan, Jalur Diplomasi Kian Tertutup
Masih pada 18 April 2026, pemerintah Iran secara resmi menolak putaran baru perundingan damai dengan Amerika Serikat. Penolakan ini dinilai sebagai salah satu bentuk intervensi terbesar Garda Revolusi dalam proses diplomasi Iran selama beberapa dekade terakhir.
Pengamat politik Timur Tengah, Nawar, menyatakan bahwa kondisi saat ini menunjukkan satu kesimpulan yang jelas: Iran praktis telah kehilangan jalur diplomasi.
Menurutnya, kelompok internal yang masih mendukung negosiasi telah tersingkir sepenuhnya dari pusat kekuasaan.
Mengapa AS Tetap Berunding? Strategi “Negosiasi untuk Gagal”
Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan besar: mengapa Presiden Donald Trump masih mengirim delegasi, termasuk Wakil Presiden J. D. Vance, untuk mengikuti putaran kedua perundingan?
Ekonom Wu Jialong memberikan penjelasan yang cukup tajam. Ia menilai bahwa perundingan yang sedang berlangsung bukan bertujuan untuk mencapai kesepakatan, melainkan untuk menciptakan dasar legitimasi bagi langkah selanjutnya.
Menurutnya, terdapat dua jenis negosiasi:
- Negosiasi untuk mencapai kesepakatan
- Negosiasi yang memang dirancang untuk gagal
Dalam konteks saat ini, Amerika Serikat dinilai menjalankan skenario kedua—tetap berunding secara formal, namun secara strategis mempersiapkan kegagalan.
Target AS Bergeser: Dari Nuklir ke Perubahan Rezim
Wu menambahkan bahwa tujuan Amerika Serikat kini tidak lagi terbatas pada:
- denuklirisasi Iran
- demiliterisasi
- pembukaan Selat Hormuz
Lebih jauh, Washington diduga mulai mengarah pada tujuan yang lebih besar, yakni perubahan rezim di Iran.
Hal ini didasarkan pada penilaian bahwa sistem pemerintahan Iran saat ini tidak lagi dapat diajak bekerja sama dan justru menjadi sumber ketidakstabilan regional.
Peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah semakin memperkuat indikasi tersebut. Bahkan, beberapa analisis menyebutkan kemungkinan adanya rencana untuk melumpuhkan atau menghancurkan Garda Revolusi Iran secara total.
Iran Tegaskan Kontrol Permanen atas Selat Hormuz
Sementara itu, Iran menunjukkan sikap yang semakin keras. Pada 19 April 2026, laporan dari BBC mengutip pernyataan seorang anggota parlemen senior Iran sekaligus mantan komandan Garda Revolusi, Aziz.
Dalam wawancara tersebut, ia menegaskan bahwa Iran:
- tidak akan pernah melepaskan kendali atas Selat Hormuz
- bahkan berencana memasukkan kontrol tersebut ke dalam undang-undang nasional
Sejalan dengan itu, kantor berita semi-resmi Fars News Agency melaporkan bahwa parlemen Iran tengah mendorong rancangan undang-undang baru terkait pembatasan lalu lintas di selat tersebut.
Rancangan tersebut mengusung prinsip “tiga larangan”:
- Kapal yang terkait dengan Israel dilarang melintas
- Kapal dari negara yang dianggap musuh tidak diizinkan lewat
- Negara yang merugikan Iran dalam konflik tanpa kompensasi juga akan diblokir
Mengapa AS Tidak Langsung Menguasai Selat Hormuz?
Pertanyaan lain yang muncul adalah mengapa Amerika Serikat tidak langsung mengambil alih Selat Hormuz.
Secara teori, langkah tersebut tampak sederhana. Namun dalam praktik, hal itu sangat kompleks dan berisiko tinggi.
Secara geografis:
- Selat Hormuz memiliki lebar tersempit sekitar 33 kilometer
- Sisi utara sepenuhnya dikuasai Iran
- Wilayah pesisir Iran didominasi pegunungan, ideal untuk strategi perang asimetris
Kondisi ini memungkinkan Iran menempatkan:
- rudal anti-kapal
- drone tempur
- artileri tersembunyi
- kapal cepat kecil
Dalam situasi tersebut, kapal besar yang melintas akan berada dalam jangkauan serangan dari darat.
Bahkan satu serangan kecil—seperti ranjau laut atau drone—sudah cukup untuk:
- menaikkan premi asuransi perang
- mengganggu jalur perdagangan global
- membuat kapal dagang enggan melintas
Untuk mengamankan selat secara permanen, AS harus menguasai daratan di kedua sisi—yang secara efektif berarti memulai perang darat di wilayah Iran.
Ancaman Internal: Faktor Kurdi dan Potensi “Momen Nol”
Di tengah ketegangan eksternal, Iran juga menghadapi tekanan internal. Pada 20 April 2026, akun analisis geopolitik “Mossad Commentary” melaporkan bahwa kelompok Kurdi telah bersiap melancarkan operasi besar terhadap Garda Revolusi.
Operasi tersebut disebut sebagai “momen nol”, yang diklaim bertujuan menghancurkan kekuatan IRGC dari dalam.
Namun hingga saat ini, klaim tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga kemungkinan unsur propaganda masih perlu dipertimbangkan.
Kesimpulan: Iran di Titik Balik, Dunia Menunggu Arah Berikutnya
Perkembangan dalam rentang 18–20 April 2026 menunjukkan bahwa Iran sedang berada di titik balik penting:
- Kekuasaan bergeser ke tangan militer
- Jalur diplomasi hampir tertutup
- Ketegangan dengan AS meningkat
- Risiko konflik regional semakin besar
Dengan Selat Hormuz sebagai pusat kepentingan global dan simbol kekuatan strategis, setiap langkah berikutnya—baik dari Iran maupun Amerika Serikat—berpotensi membawa dampak besar bagi stabilitas dunia.
Situasi kini memasuki fase yang tidak hanya menentukan masa depan Iran, tetapi juga keseimbangan geopolitik global. (***)





