Bukan Lagi Predator Udara, ini Kelemahan MQ-9 Reaper Sehingga Jadi Sasaran Empuk Senjata Rusia-China

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dominasi teknologi militer Amerika Serikat di sektor drone tempur mulai menghadapi tantangan serius. Perkembangan sistem pertahanan udara dan peperangan elektronik dari negara pesaing mengubah lanskap perang modern secara signifikan.

Pesawat nirawak MQ-9 Reaper selama ini menjadi tulang punggung operasi militer AS. Drone ini digunakan untuk misi pengintaian hingga serangan presisi di berbagai kawasan konflik.

Baca Juga
  • Hungaria Murka: Ukraina Didesak Alirkan Minyak Rusia, Zelensky Dituding Mainkan Politik Energi Eropa
  • Minyak Rusia Jadi Alat Tawar, Hungaria Tekan Ukraina dan Uni Eropa
  • Terungkap, Hungaria Makin Dekat ke Rusia, Uni Eropa Terancam Terbelah

Namun, laporan terbaru menyebutkan efektivitas Reaper mulai dipertanyakan. Dalam konflik berintensitas tinggi, platform ini dinilai semakin rentan.

Majalah The National Interest menyoroti keterbatasan tersebut. Drone ini disebut tidak dirancang untuk menghadapi lawan dengan sistem pertahanan udara canggih, sebagaimana diberitakan RTVI.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

MQ-9 Reaper awalnya dikembangkan untuk menghadapi musuh non-konvensional. Lingkungan operasi seperti Timur Tengah membuatnya sangat efektif dalam peran tersebut.

Dalam situasi tersebut, Reaper mampu melakukan pengawasan dan serangan dengan risiko minimal. Keunggulan ini menjadikannya simbol kekuatan teknologi militer AS.

Namun, kondisi berubah ketika berhadapan dengan negara seperti Rusia dan China. Kedua negara memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang mampu mendeteksi dan menghancurkan drone.

Selain itu, kecepatan Reaper yang relatif rendah menjadi kelemahan. Jejak radar yang cukup besar juga memudahkan pelacakan oleh sistem musuh.

Kondisi ini membuat peran Reaper dalam perang modern diperkirakan akan menurun. Bahkan, nilainya dalam konflik berteknologi tinggi disebut bisa mendekati nol.

Pengalaman di lapangan semakin memperkuat analisis tersebut. Dalam konflik dengan Iran, sejumlah drone Reaper dilaporkan berhasil ditembak jatuh.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gerakan Pengendalian Hama Padi Digencarkan di Karawang untuk Cegah Gagal Panen
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo terima laporan realisasi investasi kuartal I 2026 capai target
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Personel Komcad Hampir Capai 50.000 Orang, Akan Terus Ditambah dari ASN-Swasta
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Undana-ATSEA riset konservasi dugong di Laut Timor
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Menkeu: Presiden Tidak Instruksikan APBN untuk Iuran BoP
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.