Bisnis.com, JAKARTA — China kembali memimpin penambahan kapasitas pembangkit bertenaga angin secara global pada 2025 dengan instalasi baru mencapai 120,5 gigawatt (GW). Angka ini sekaligus mendorong total tambahan kapasitas dunia ke rekor tertinggi sebesar 165 GW.
Berdasarkan laporan Global Wind Report 2026 yang dirilis Global Wind Energy Council (GWEC), angka tersebut naik 40% dibandingkan 2024 yang sebelumnya juga merupakan tahun rekor. Rinciannya, pembangkit angin darat atau onshore menyumbang 155,3 GW atau tumbuh 42%, sementara pembangkit lepas pantai atau offshore menambah 9,3 GW atau naik 16% secara tahunan.
Secara kumulatif, total kapasitas terpasang pembangkit angin dunia mencapai 1.299 GW pada akhir 2025. Pembangkit ini tersebar di seluruh benua dan total terdapat 57 negara yang melakukan pemasangan turbin angin sepanjang tahun lalu.
Sebanyak 14 negara masing-masing menambah lebih dari 1 GW kapasitas baru pada 2025, yakni China (120,5 GW), Amerika Serikat (6,9 GW), India (6,3 GW), Jerman (5,7 GW), Brasil (2,3 GW), Turki (2,1 GW), Swedia (1,8 GW), Spanyol (1,6 GW), Arab Saudi (1,5 GW), Prancis (1,4 GW), Inggris (1,3 GW), Australia (1,2 GW), Cile (1,2 GW), dan Finlandia (1,0 GW).
Lima negara teratas yakni China, Amerika Serikat, India, Jerman, dan Brasil, berkontribusi 86% dari total penambahan kapasitas global pada 2025. Kelima negara tersebut juga mendominasi kapasitas terpasang kumulatif, dengan porsi mencapai 75% dari total dunia.
Kawasan Asia Pasifik makin mengukuhkan posisi dominannya dengan pangsa pasar global sebesar 80%. Lonjakan kapasitas China dinilai mencerminkan komitmen jangka panjang negara tersebut terhadap target emisi puncak pada 2030 dan netralitas karbon pada 2060.
Baca Juga
- Instalasi Pembangkit Bertenaga Angin Cetak Rekor pada 2025
- Mengukur Momentum Transisi Energi RI ketika Bahan Bakar Fosil Bergejolak
- PLTS dan Energi Angin Melejit, Pembangkit Fosil Alami Penurunan Terbesar Abad Ini di Asia
Sementara itu, India mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarahnya, dengan tambahan kapasitas melonjak 86% dari 3,4 GW pada 2024 menjadi 6,3 GW pada 2025. Capaian ini menempatkan India di posisi ketiga global, menggeser Jerman, seiring dengan komitmen negara tersebut untuk mencapai 500 GW kapasitas energi non-fosil pada 2030.
Di kawasan Afrika dan Timur Tengah, 2025 juga menjadi tahun di mana rekor ditorehkan. Pertumbuhan dipicu oleh ekspansi di Afrika Selatan dan lonjakan signifikan di Arab Saudi.
Proyek wind farm Dawadmi berkapasitas 1.500 megawatt (MW) di Arab Saudi mencatatkan rekor dunia sebagai proyek angin dengan biaya terendah, yakni US$1,338 per kilowatt hour (kWh).
Kawasan Timur Tengah diproyeksikan menambah lebih dari 18 GW kapasitas angin darat sepanjang 2026–2030 karena didukung rencana pembangunan fasilitas manufaktur baru di Arab Saudi dan Oman.
Satu-satunya kawasan yang mengalami perlambatan adalah Amerika Latin dan Karibia. Di Brasil yang menambah 2,3 GW pada 2025, laju instalasi melambat akibat lemahnya permintaan listrik dan meningkatnya pembatasan produksi (curtailment).





