Diskusi AJI Makassar, Teknik Grounding dan Self-Care Jadi Kunci Atasi Stres Jurnalis Perempuan

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR-AJI Makassar mengajak publik membuka ruang percakapan yang jujur dan reflektif melalui diskusi bertajuk “Di Balik Deadline: Bagaimana Kondisi Jurnalis Perempuan, Tekanan Mental, dan Ruang Aman di Redaksi”.

Diskusi bertepatan dengan Hari Kartini ini sukses mengupas pengalaman, tantangan, serta upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan suportif bagi jurnalis perempuan di Sekretariat AJI Makassar, Jl Toddopuli 10 Nomor 24 dan Virtual (Zoom Meeting), Selasa (21/4/2025).

Ketua Bidang Gender, Anak dan Kelompok Marginal AJI Indonesia, Shinta Maharani, memaparkan kondisi jurnalis perempuan yang menghadapi tekanan mental berlapis.

Ia mencontohkan kasus seorang jurnalis perempuan korban kekerasan seksual yang mengalami depresi berat hingga nyaris bunuh diri. Jurnalis tersebut tidak mendapat dukungan dan penanganan tepat dari kantornya.

Efeknya, ia mengalami kecemasan, kesedihan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, kelelahan fisik, hingga menarik diri dari lingkungan sosial karena pengucilan dan bullying.

“Cerita tadi menunjukkan jurnalis perempuan mengalami tekanan mental jauh lebih kuat dan berlapis, dua kali lebih berat dibanding jurnalis laki-laki, di balik target dan deadline yang ketat,” jelas jurnalis Tempo ini.

Hampir semua jurnalis perempuan berisiko mengalami depresi, termasuk korban kekerasan seksual.

Data AJI 2022 menunjukkan 82 persen jurnalis perempuan mengalami kekerasan seksual. Sepanjang 2025, tercatat 91 kasus kekerasan terhadap jurnalis, 11 di antaranya perempuan.

Survei IFJ 2018 mencatat 66 persen jurnalis perempuan mendapat serangan daring berbasis gender berupa pelecehan seksual, penghinaan fisik, delegitimasi pekerjaan, hingga ancaman pemerkosaan.

Selain trauma, perempuan jurnalis harus menghadapi jam kerja panjang, ruang redaksi maskulin, stereotip, diskriminasi, hingga pelecehan dari narasumber.

Shinta Maharani bahkan pernah mengalami pelecehan saat liputan investigasi tambang pasir ilegal.

“Tekanan mental ini patut menjadi perhatian semua pihak yang peduli kebebasan pers,” tegasnya.

Menurutnya, perusahaan pers memiliki tanggung jawab menciptakan ruang redaksi yang inklusif dengan kebijakan perlindungan kesehatan mental.

Olehnya itu, AJI Indonesia mendorong media massa menyediakan konseling, menyusun SOP pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, serta mekanisme perlindungan saksi.

AJI Indonesia juga bekerja sama dengan AJI kota dan lembaga layanan psikologis di daerah, serta pernah menggelar pelatihan kesehatan mental bersama HIMPSI dan pelatihan keamanan jurnalis secara holistik.

Shinta Maharani, menegaskan tidak semua ruang redaksi memiliki SOP pencegahan kekerasan seksual. Menurutnya, tanpa jaminan tersebut, korban tidak memiliki daya tawar.

“Ini adalah bentuk kekerasan sistemis atau struktural, bukan sekadar merugikan individu. Di situ ada relasi kuasa dan patriarki,” ujarnya.

Psikolog Bidang Klinik dan Forensik Biro Psikologi Daya Potensial Indonesia, Sitti Annisa M Harussi menjelaskan pentingnya memahami kesehatan mental secara menyeluruh.

Ia mengutip definisi WHO bahwa kesehatan mental adalah keadaan kesejahteraan di mana seseorang mampu mengatasi stres, menyadari kemampuan diri, belajar dan bekerja dengan
baik, serta memberi kontribusi pada lingkungan sekitar.

“Saya pun stres karena deadline. Stres itu wajar, menjadi tidak wajar ketika berkembang menjadi kondisi yang merugikan atau menghambat fungsi sehari-hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, perempuan sering menghadapi tekanan berlapis, bukan hanya dari pekerjaan, tetapi juga dari lingkungan sosial, termasuk tuntutan usia dan peran domestik.
Karena itu, perempuan perlu mencari cara untuk mengatasi stres.

“Salah satu teknik sederhana yang saya sarankan adalah grounding. Caranya dengan mencari ruang aman, menutup mata, melakukan relaksasi pernapasan pelan-pelan, merasakan hembusan napas, serta menyadari emosi yang sedang dialami,” tuturnya.

Tujuannya supaya kita bisa tahu cara mengatasi stres. Icha juga membedakan antara mengelola dan mengatasi stres. Tidur, misalnya, hanya mengelola efek negatif stres, bukan mengatasi sumber masalah.

“Kalau kita stres karena deadline, tidur membuat perasaan lebih enak, tapi deadline tetap ada. Jadi harus dihadapi,” katanya.

Ia menekankan pentingnya self-care. “Self-care bukan sekadar skincare. Self-care adalah bagaimana kita mengelola diri, menenangkan pikiran, dan mencari cara agar tetap berfungsi dengan baik,” pungkasnya.(wis)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pria Ditemukan Tewas di Tebing Pecatu Bali: Sempat Sewa Motor buat Lihat Sunrise
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Prediksi Skor Burnley vs Man City Dini Hari Nanti, Kans Cityzen Kudeta Arsenal dari Puncak
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Milomir Seslija Minta Persis Tak Minder saat Hadapi Bhayangkara FC, Singgung soal Mentalitas dan Pengorbanan Lolos Degradasi
• 14 jam lalubola.com
thumb
Pelindo Dukung Percepatan PSEL untuk Solusi Sampah Berkelanjutan
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
1.516 Barang Tertinggal di Kereta Selama Awal 2026, Paling Banyak HP dan Tumbler
• 4 menit lalukompas.com
Berhasil disimpan.