Pemain Dewa United, Ricky Kambuaya, jadi korban rasial usai timnya menghadapi Persib Bandung. Ini adalah kesekian kalinya pesepak bola di Indonesia, lokal maupun asing, menjadi korban rasial di media sosial.
Dalam laga yang digelar Senin (20/4), Dewa United dan Persib bermain imbang 2-2. Di partai itu, Ricky mencetak satu gol bagi Dewa United.
Usai pertandingan, instagram Ricky dibanjiri oleh hujatan bernada rasis. Eks gelandang Persib itu bahkan sampai angkat suara terkait masifnya hinaan tersebut.
Tak hanya Ricky, pemain Dewa United lainnya, Johnathan Pereira, juga mengalami hal serupa.
Menyikapi situasi tersebut, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (AAPI) menyatakan seharusnya sudah tidak ada tempat untuk rasisme di sepak bola Indonesia. APPI bersama I.League juga sudah berkolaborasi menjalankan kampanye anti rasisme dan bullying.
"Upaya ini terus kami gaungkan di setiap pertandingan, dengan harapan bisa membangun kesadaran bersama, baik di kalangan pemain, ofisial, maupun suporter," ujar Komite Eksekutif (Exco) APPI, Andritany Ardhiyasa, kepada kumparan, Rabu (22/4).
"Dari sisi perlindungan, APPI juga secara aktif melakukan edukasi kepada para pemain terkait langkah-langkah yang bisa diambil jika mengalami tindakan rasisme. Mekanisme pengaduan sudah disusun dan disosialisasikan, termasuk melalui panduan resmi dari operator liga, “Player & Coach Guidelines”, sehingga pemain memiliki kejelasan dalam melapor," lanjutnya.
Kiper Persija itu mengakui pihaknya telah menerima laporan dari banyak pemain yang menjadi korban rasis. Menurutnya, APPI berupaya memberikan pendampingan dengan tetap mengedepankan kenyamanan dan pilihan dari pemain yang bersangkutan.
"Ada pendekatan yang sifatnya pembinaan, seperti mediasi dan permintaan maaf secara langsung, namun juga ada opsi untuk menempuh jalur hukum apabila memang diperlukan," tegasnya.
"Yang terpenting bagi kami adalah memastikan bahwa setiap pemain merasa terlindungi, didengar, dan mendapatkan penanganan yang adil. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar sepak bola kita bisa menjadi ruang yang aman dan inklusif untuk semua," tandasnya.





