Fenomena April Rebound: Musiman IHSG Menguat, tapi 2026 Dibayangi Perang di Iran

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bulan April kerap menjadi momentum yang diburu investor saham untuk meraup cuan. Fenomena April Rebound selama ini dikenal sebagai pola musiman yang mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), seiring perubahan strategi dan aliran dana di pasar.

Penguatan ini ditopang oleh siklus likuiditas dan positioning investor. Di akhir Maret, banyak manajer investasi melakukan window dressing portofolio, sebelum kembali mengambil posisi baru saat memasuki April.

Selain itu, rebalancing oleh investor institusi global di awal kuartal II serta kembalinya arus dana ke pasar setelah tekanan jual pada Januari-Februari menjadi katalis yang mengangkat pergerakan IHSG.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan dalam rentang 25 tahun, bulan April memang cenderung memberikan kinerja positif bagi IHSG.

Kata Nafan, momentum ini biasanya muncul karena investor kembali masuk ke pasar setelah sebelumnya melakukan aksi jual pada awal tahun, terutama setelah adanya kepastian kinerja emiten dan pembagian dividen.

“Kalau secara 25 tahun terakhir itu kinerja April, di bulan April itu bullish. Jadi wajar saja kalau ada fenomena terkait dengan April rebound, itu bisa saya setuju,” kata Nafan kepada kumparan, Rabu (22/4).

Meski demikian, menurutnya, kondisi tahun ini menunjukkan dinamika yang berbeda. Salah satunya karena ada perang AS-Israel dengan Iran, Nafan menyebut penurunan sentimen positif bisa memicu aksi ambil untung oleh investor.

“Cuma yang di 2026 ini, misalnya kalau terjadi apa sentimen positifnya menurun, misalnya wajar saja itu jadi aksi profit taking, seperti yang dialami oleh IHSG selama selasa atau rabu ini,” jelasnya.

“Tapi untung saja kan tidak mengalami pendorongan yang sangat tajam. Bahkan misalnya trading halt, untung saja tidak. Karena market sebenarnya sudah berhasil mitigasi dan baik,” sambung dia.

Dari sisi domestik, pelemahan nilai tukar rupiah pun jadi faktor yang menekan pergerakan IHSG pada April 2026. Kondisi ini memicu arus keluar modal asing dan meningkatkan volatilitas pasar.

“Rupiah kan terdepresiasi di kisaran Rp 17.100-an, masih volatile, ya wajarlah outflow, capital outflow itu masih terjadi,” ungkapnya.

Dalam situasi tersebut, peran investor domestik disebut penting sebagai penopang pasar. Faktor psikologis terkait dividen juga turut mempengaruhi pergerakan harga saham.

“Paling tidak biasanya kalau secara psikologis, kalau ada dividen, ada saja kan, harga saham sudah ter-pricing dengan berita dividen, jadi investor lebih cenderung mengambil aksi profit taking, itu juga bisa,” ujar Nafan.

Jika melihat data historis Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada bulan April lima tahun terakhir memang menunjukkan kecenderungan menguat meskipun tak selalu konsisten setiap tahun.

Setelah berada di level 4.716,40 pada April 2020, IHSG naik menjadi 5.995,62 pada April 2021, lalu melonjak di level 7.228,91 pada April 2022. Pada 2023 indeks turun berada di 6.915,716, meningkat lagi ke 7.234,197 pada April 2024, sebelum turun ke level 6.766,795 pada April 2025.

Pandangan serupa disampaikan Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, yang menilai April Rebound sebagai fenomena lazim di pasar saham Tanah Air. Katanya, rilis laporan keuangan dan pembagian dividen menjadi katalis utama yang menarik kembali minat investor ke pasar.

“Untuk yang pertama terkait dengan April Rebound, ini merupakan fenomena yang biasanya di bursa efek kita ya, dan kondisi ini didorong oleh penguatan IHSG ataupun juga pembalikan arah IHSG menjadi yang positif ya,” kata Gunarto.

Namun, pada April 2026, faktor global menghambat penguatan IHSG. Ketegangan di Iran serta lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.

“Karena dampak kondisi global yang tidak kondusif terutama akibat adanya perang antara Iran dengan AS dan juga Israel ditambah lagi dengan dampak penutupan Selat Hormuz yang membuat harga minyak terus mengalami kenaikan dan harganya terus di atas USD 90 per barel,” tutur Gunarto.

Kondisi itu, kata Gunarto, bisa berdampak langsung terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia, sekaligus memperbesar tekanan inflasi global dan mempersempit ruang penguatan pasar.

“Dan kondisi tersebut membuat investor menjadi khawatir dengan prospek fiskal dari negara net oil importir seperti Indonesia,” sebutnya.

Di sisi lain, kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang masih tinggi turut menahan aliran dana masuk ke pasar negara berkembang, sehingga memperlemah potensi rebound yang biasanya terjadi di bulan April.

Dalam menghadapi kondisi ini, investor diminta untuk lebih selektif. Gunarto menyarankan pendekatan fundamental jangka pendek, dan disiplin dalam manajemen risiko.

“Dengan kondisi saat ini yang kurang kondusif mau tidak mau setiap satu hari itu lakukan strategi perdagangan itu dengan orientasinya adalah short term,” imbuh Gunarto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPS Gelar Kompetisi Jurnalistik SE2026 Berhadiah Rp48 Juta
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Tanpa Bruno Moreira Lalu Gali Freitas, Kejeniusan Bernardo Tavares Diuji Bawa Persebaya Surabaya Kejutkan Tuan Rumah Malut United
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Jerman dan Italia Jegal Upaya Uni Eropa Sanksi Israel
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Industri Dukung Label Nutrisi, Minta Waktu Adaptasi Implementasi Aturan
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gali Freitas Siap Bangkit dan Tambah Kontribusi untuk Persebaya
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.