Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menperin Agus Gumiwang siapkan jurus sinkronisasi kebijakan tarif hingga insentif fiskal untuk jaga napas pelaku usaha.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional saat ini masih beroperasi dalam kondisi relatif stabil.
Meskipun dibayangi dinamika global yang menekan harga dan ketersediaan bahan baku, industri dalam negeri dinilai memiliki daya tahan yang kuat.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, pihaknya terus memantau fluktuasi harga bahan baku global yang berdampak pada struktur biaya produksi industri TPT dalam negeri.
"Kami terus mencermati fluktuasi harga bahan baku global dan memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan bahan baku serta kelancaran rantai pasok," ujar Menperin dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu, 22 April 2026.
Tekanan Bahan Baku Petrokimia
Berdasarkan koordinasi dengan asosiasi industri, tekanan utama saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku berbasis energi. Salah satunya adalah harga paraxylene (PX) domestik yang melonjak hingga 40 persen mengikuti tren pasar internasional.
Kenaikan ini berdampak pada biaya produksi di sepanjang rantai nilai, mulai dari industri hulu hingga hilir, termasuk harga kain, produk antara (intermediate), hingga komponen pendukung seperti kemasan plastik.
Sementara itu, pasokan bahan kimia monoethylene glycol (MEG) dipastikan aman hingga April, meski pemantauan ketat tetap dilakukan untuk periode selanjutnya.
Langkah Strategis Pemerintah
Untuk memastikan kesiapan industri, Kemenperin tengah menjalankan sejumlah langkah antisipatif, di antaranya:
Sistem Monitoring Terpadu: Pengembangan analisis data secara real-time untuk memantau pasokan bahan baku kritikal.
Opsi Kebijakan Fiskal: Pengkajian pemberian insentif fiskal untuk bahan baku strategis.
Sinkronisasi Kebijakan: Penyesuaian tarif, fasilitas energi, dan instrumen perdagangan untuk mendukung keseimbangan rantai nilai dari hulu ke hilir.
Serat Rayon Jadi Alternatif Andalan
Di tengah tantangan bahan baku sintetis (petrokimia) seperti polyester, pemerintah mendorong pemanfaatan serat rayon sebagai solusi.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, menjelaskan bahwa serat rayon yang diproduksi di dalam negeri menjadi penopang penting kemandirian industri.
"Pemanfaatan rayon memberikan alternatif bahan baku yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri di tengah tekanan harga petrokimia," jelas Rizky.
Ia menambahkan, sinergi antara serat alam dan sintetis merupakan bagian dari strategi adaptasi untuk menjaga keberlanjutan produksi di sektor hilir.
Namun, Rizky memberi catatan khusus pada subsektor hygiene seperti industri popok (diapers) yang sangat bergantung pada bahan baku spesifik tanpa substitusi.
Kendati demikian, Rizky optimistis industri TPT nasional akan tetap tumbuh dan semakin resilien menghadapi tantangan global.
"Industri TPT kita memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi struktur maupun pasar domestik. Dengan kolaborasi erat, kami yakin industri ini akan tetap tumbuh," pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





