JAKARTA, KOMPAS — PT Barito Renewables Energy Tbk dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk berisiko tergusur dari indeks saham domestik dan global. Tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi di kedua perusahaan menjadi pertimbangannya.
Keputusan MSCI menahan bobot Indonesia di MSCI Investable Market Index (MIM) membuat pelaku pasar mengambil sikap risk-off atau menghindari risiko. Investor berpotensi menghindari saham dengan isu kepemilikan saham publik atau free float rendah karena tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Saham yang dimaksud terutama saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan milik Sinar Mas, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Saham BREN tercatat berstatus HSC dengan persentase 97,3 persen dibandingkan free float-nya sebesar 2,7 persen dari total tercatat 12 persen. Sementara, tingkat HSC saham DSSA sebesar 95,8 persen dari free float sebesar 20 persen, yang membuat free float sesungguhnya hanya 4 persen.
Pengamat pasar saham sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, kepada Kompas, Rabu (22/4/2026), mengatakan, saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan saham tinggi seperti BREN dan DSSA memang berisiko mengalami tekanan ganda. Tekanan itu baik dari sisi persepsi likuiditas maupun potensi pengurangan bobot di indeks global.
”Saham BREN dan DSSA memang menjadi perhatian karena kontribusinya signifikan terhadap indeks, sehingga setiap tekanan di saham tersebut akan lebih terasa ke IHSG secara keseluruhan,” tuturnya.
Pada perdagangan sesi I, Rabu (22/4), saham DSSA merosot 10,7 persen ke Rp 2.480. Sementara BREN turun 7,5 persen ke Rp 5.525. Sehari sebelumnya, DSSA bahkan sempat jatuh 14 persen dan BREN 9,4 persen, menempatkan keduanya dalam daftar saham dengan penurunan terdalam.
Dalam tren penurunan harga tersebut, kapitalisasi pasar keduanya masih berada di urutan atas dibanding seluruh saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). BREN tercatat bernilai Rp 882 triliun dan DSSA Rp 629 triliun. BREN menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, disusul DSSA setelah PT Bank Central Asia Tbk.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Selasa (21/4/2026), menilai pergerakan kedua saham masih dalam tren bearish atau penurunan harga yang kuat.
Untuk DSSA, ia menyebut level support atau batas terendah berada di Rp 2.340 dan batas atas atau resistance di Rp 3.500. Sementara itu, BREN memiliki support di kisaran Rp 4.680, dengan resistance di sekitar Rp 6.700.
“Kita harus menunggu konfirmasi Rabu berikutnya karena keduanya masih menunjukkan tekanan jual yang kuat,” ujarnya.
Tekanan bertambah setelah BEI merilis penyesuaian kriteria indeks saham dengan kriteria likuiditas baik, yakni IDX30, LQ45, dan IDX80. Dalam siaran pers Rabu (22/4/2026), BEI mengevaluasi indeks tersebut dengan menambahkan kriteria HSC dan minimal free float 10 persen.
Kebijakan tersebut efektif berlaku mulai 4 Mei 2026 dan berpotensi mengeluarkan saham-saham dengan likuiditas rendah dari semesta indeks.
BRI Danareksa Sekuritas, dalam keterangannya, menilai penambahan kriteria tambahan tersebut akan menambah risiko pada saham BREN dan DSSA. Kedua saham itu berisiko keluar dari indeks domestik baik IDX80 maupun LQ45.
”Dengan ini, ada potensi outflow (arus keluar) dari passive funds dan index tracker. Lalu, tekanan lanjutan pasca sentimen rebalancing global sebelumnya (MSCI),” kata mereka.
Meski dua saham berkapitalisasi besar itu terdampak negatif, para analis menilai tekanan ke pasar saham secara umum tidak dalam. Koreksi akibat faktor teknis justru bisa membuka peluang akumulasi jika fundamental jangka panjang tetap kuat.
Pada perdagangan Rabu sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,20 persen ke level 7.544. Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 564 miliar.
Pelemahan IHSG pada perdagangan kemarin, usai pengumuman MSCI juga tipis, yaitu melemah 0,4 persen ke level 7.559. Investor asing kemarin mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 473 miliar. Sebaliknya, investor domestik sepanjang hari kemarin banyak menjual saham hingga net sell sekitar Rp 500 miliar.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, memproyeksikan arus keluar dana asing masih bisa terjadi, terutama dari investor institusi yang bersifat pasif.
Hal ini terjadi karena investor global masih menunggu keputusan final MSCI pada Mei 2026, di tengah kekhawatiran sebelumnya terkait potensi penurunan status pasar Indonesia. “Mau tidak mau ini harus diterima sebagai bagian dari proses pendalaman pasar,” kata Rully.
Kendati demikian, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi di kisaran 7.300–7.700 hingga akhir semester I-2026, dengan peluang menuju 7.800–7.900 pada akhir 2026.
Penguatan diprediksi tidak merata. Saham dengan likuiditas tinggi, free float besar, dan fundamental kuat dinilai lebih berpotensi memimpin rebound atau pembalikan tren IHSG.
Rully mengatakan, dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik memang masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar pada triwulan II-2026.
Konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan global, turut mendorong tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Namun, dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka,” ujar Rully.





