Menlu Sugiono mengikuti rapat online yang membahas blokade Selat Hormuz. Rapat itu diinisiasi oleh Prancis dan Inggris.
Sugiono mengungkap, dalam rapat itu negara-negara menyatakan menolak segala jenis pungutan bagi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. Iran sebelumnya dilaporkan mulai mendorong penggunaan mata uang kripto sebagai bagian dari sistem pembayaran tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. "Pertama, bahwa negara-negara yang ikut dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau toll bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz. Karena hal itu bertentangan dengan apa yang dikenal dengan freedom of navigation," kata Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/4). Sugiono mengatakan meski Selat Hormuz dikuasai oleh Iran, jalur laut perdagangan penting itu juga bersinggungan dengan Oman dan Uni Emirat Arab (UEA).
"Dan yang kedua, konferensi ini mengatakan akan terus mendukung upaya-upaya yang sifatnya diplomatis dan negosiasi politis dalam rangka menyelesaikan ketegangan di situ, di Selat Hormuz," tuturnya. Yang terakhir, rapat online itu juga membahas rencana untuk menempatkan perlindungan militer yang damai (peaceful military protection) bagi kapal-kapal yang melalui Selat Hormuz. "Jadi kapal-kapal yang lewat di situ itu dikawal dalam misi mengawal untuk bisa lewat. Tapi tentu saja ini masih dalam pembicaraan yang lebih lanjut, ya, proposal yang diajukan, perdamaian logistik," ujarnya. "Karena bukan cuma minyak yang lewat Selat Hormuz. Yang lewat Selat Hormuz itu berbagai macam produk. Jadi kurang lebih seperti itu. Normalisasi yang tadi disampaikan, ya, tentu saja upaya-upaya de-mining juga dilakukan, membersihkan ranjau-ranjau laut yang ada di sekitar Selat Hormuz," pungkasnya.





