JAKARTA, DISWAY.ID - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan proses negosiasi kapal Pertamina untuk mengikuti selat Hormuz tak berjalan mulus.
Sugiono mengatakan proses negosiasi menjadi lebih kompleks akibat dinamika internal di Iran, di mana kebijakan pemerintah tidak selalu berjalan selaras dengan implementasi di lapangan.
BACA JUGA:Korban Investasi Kripto Timothy Ronald Datangi PMJ, Ngeluh Laporan Belum Ada Perkembangan
BACA JUGA:Polda Sumut Tak Tahan Istri Tersangka Penggelapan Dana Jemaat Gereja Rp28 M, Fokus Telusuri Aset
"Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri karena kadang-kadang apa yang menjadi kebijakan dari atas itu tidak serta merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa," kata Sugiono di Kantor Staf Presiden (KSP), Rabu, 22 April 2026.
Di sisi lain, perkembangan terbaru terkait potensi blokade Selat Hormuz turut menambah tekanan. Sejumlah syarat baru bagi kapal yang ingin melintas juga muncul dan masih dalam tahap negosiasi oleh pemerintah Indonesia.
“Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz. Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan,” jelas Sugiono.
Meski demikian, Sugiono mengatakan pemerintah Indonesia terus melakukan negosiasi terkait kapal milik Pertamina yang berada di Selat Hormuz.
BACA JUGA:Selat Hormuz Kembali Ditutup, 2 Kapal Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab
BACA JUGA:Kabar Baik! 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz
Upaya tersebut dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Teheran bersama tim Pertamina, khususnya terkait perizinan pelayaran kapal yang melintas di kawasan tersebut.
"Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Duta Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan, kemudian bersama juga dengan tim dari Pertamina terkait dengan izin lewat dari kapal-kapal kita yang ada di Selat Hormuz," imbuhnya.
Diketahui, dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Situasi ini terjadi di tengah kembali memanasnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut, setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz kurang dari 24 jam sejak sempat dibuka.
Pelaksana tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi yang berlangsung sangat dinamis di kawasan tersebut.




