Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pengungkapan praktik peredaran narkotika dengan modus baru kembali dilakukan oleh Bareskrim Polri di wilayah Jakarta Timur. Kasus ini menjadi perhatian karena melibatkan penggunaan cartridge vape yang diisi zat berbahaya seperti Etomidate dan sabu, serta memanfaatkan jasa pengiriman ojek online sebagai sarana distribusi.
Peristiwa ini bermula dari kejelian seorang pengemudi ojek online yang merasa ada kejanggalan pada paket yang akan ia kirimkan. Alih-alih langsung mengantarkan, ia memilih melapor ke petugas di Mabes Polri. Tindakan tersebut menjadi titik awal terbongkarnya jaringan yang diduga sudah beroperasi secara sistematis.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa laporan tersebut diterima pada malam hari, Senin (13/4). Paket kemudian diperiksa menggunakan alat X-Ray di area penjagaan, dan hasilnya menunjukkan indikasi kuat adanya kandungan narkotika di dalamnya. Kecurigaan itu terbukti setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh petugas.
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim penyidik langsung menerapkan strategi control delivery dan penyamaran. Petugas berpura-pura menjadi pengemudi ojek online untuk mengantarkan paket ke alamat tujuan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Dari operasi terselubung itu, polisi berhasil melacak pihak yang terlibat hingga akhirnya mengarah pada seorang tersangka.
Tersangka yang diamankan diketahui bernama Ananda Wiratama (27), seorang mahasiswa yang diduga berperan sebagai kurir dalam jaringan tersebut. Ia ditangkap di sebuah rumah kontrakan di kawasan Matraman pada Selasa dini hari. Penangkapan ini membuka pintu bagi pengungkapan jaringan yang lebih luas.
Dalam penggeledahan di lokasi pertama, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa sabu, ganja, serta belasan cartridge vape yang berisi cairan Etomidate. Zat ini sebenarnya merupakan obat bius yang digunakan dalam dunia medis, namun sering disalahgunakan sebagai narkotika golongan II karena efek halusinogeniknya.
Penyidikan kemudian berkembang ke lokasi lain yang diduga menjadi pusat pengendalian dan produksi, yakni sebuah unit apartemen di kawasan Pulo Gadung. Namun, saat dilakukan penggerebekan, sosok yang diduga sebagai bandar utama berhasil melarikan diri. Polisi mengidentifikasi pria tersebut sebagai Frendry Dona, yang kini telah masuk dalam daftar pencarian orang.
Di apartemen tersebut, petugas menemukan indikasi kuat adanya laboratorium clandestine atau laboratorium rahasia yang digunakan untuk meracik narkoba dalam bentuk cairan vape. Barang bukti yang diamankan cukup mencengangkan, mulai dari ratusan kemasan vape berbagai merek hingga peralatan laboratorium seperti gelas ukur, alat pres, serta catatan yang diduga berisi panduan produksi.
Menurut keterangan awal dari tersangka, praktik ini telah berjalan cukup lama dan terorganisir. Ananda mengaku telah melakukan pengiriman sebanyak puluhan kali atas perintah Frendry, dengan bayaran tertentu untuk setiap pengantaran. Ia juga menyebut bahwa stok barang biasanya diambil langsung dari apartemen yang menjadi markas operasi.
Kasus ini menunjukkan adanya pola baru dalam peredaran narkotika yang memanfaatkan teknologi dan tren gaya hidup, seperti penggunaan vape. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum karena metode distribusi semakin sulit dideteksi secara kasat mata.
Dari keseluruhan pengungkapan, nilai ekonomi barang bukti yang berhasil disita ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Selain itu, aparat memperkirakan ratusan orang berhasil diselamatkan dari potensi penyalahgunaan narkotika berkat pengungkapan ini.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa pengejaran terhadap bandar utama masih terus dilakukan. Masyarakat juga diimbau untuk ikut berperan aktif dalam memberikan informasi apabila mengetahui keberadaan pelaku atau aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan narkoba.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peran masyarakat, sekecil apa pun, dapat memberikan dampak besar dalam pemberantasan kejahatan. Keputusan seorang pengemudi ojek online untuk melapor telah membuka jaringan yang selama ini tersembunyi, sekaligus menyelamatkan banyak nyawa dari bahaya narkotika.
Ke depan, Bareskrim Polri berkomitmen untuk terus mengembangkan penyelidikan dan mengungkap jaringan lain yang mungkin masih berkaitan. Inovasi modus operandi oleh pelaku kejahatan akan terus diimbangi dengan strategi penegakan hukum yang adaptif dan kolaboratif.





