KOMPAS.TV - Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Garut, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga elpiji nonsubsidi.
Antara lain elpiji ukuran 12 kilogram yang dibeli dengan harga Rp250.000.
Dampak kenaikan harga elpiji nonsubsidi antara lain dirasakan para pemilik usaha kuliner di kawasan Jalan Patriot, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat.
Tingginya harga elpiji nonsubsidi berimbas pada biaya operasional kafetaria yang sehari-harinya menggunakan gas sebagai salah satu komponen utama.
Pengelola kafe menyebut, meski ada kenaikan harga gas, pihaknya berupaya untuk tidak menaikkan harga jual makanan karena khawatir ditinggalkan pelanggan.
Mereka pun harus menyiapkan berbagai strategi agar bisnis tetap bertahan.
Dari hasil pantauan sementara di salah satu pangkalan elpiji Kota Semarang, di tengah kenaikan harga elpiji nonsubsidi, hingga kini pasokan masih sama dan belum berdampak pada penjualan.
Biasanya, konsumen yang membeli elpiji nonsubsidi di tempatnya merupakan kafe dan kos-kosan di sekitar lingkungannya.
Hingga saat ini belum terlihat adanya perpindahan konsumen dari elpiji nonsubsidi ke elpiji subsidi, mengingat pembeli elpiji subsidi pun telah terdaftar.
Pemilik pangkalan elpiji pun berharap agar harga elpiji nonsubsidi juga bisa kembali normal agar tidak memberatkan konsumen.
#gasnonsubsidi #umkm #garut #semarang
Penulis : kharismaningtyas
Sumber : Kompas TV
- elpiji nonsubsidi
- harga gas naik
- umkm garut
- usaha kuliner
- ekonomi mikro
- jawa barat





