Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews – Jakarta
TVRI dan Unindra Perkuat Intelektualitas Perempuan Melalui Bahasa di Momentum Hari Kartini
Di tengah masifnya transformasi digital, penguatan literasi bahasa bagi perempuan Indonesia kini dipandang sebagai pilar utama dalam membangun peradaban yang beradab dan berintelektual.
Sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan media publik menjadi instrumen krusial dalam membentuk standar baru komunikasi yang berkualitas bagi generasi mendatang.
Isu fundamental ini menjadi fokus utama dalam program "Perspektif" TVRI Jakarta edisi spesial bertajuk Wiwaksa Bastra.
Diskusi yang ditayangkan pada Senin 20 April 2026 tersebut digelar secara khusus untuk memaknai kembali warisan pemikiran Raden Ajeng Kartini dalam konteks modernitas.
Intelektualitas sebagai Esensi Kebangsawanan
Kepala Pusat Data dan Strategi LPP TVRI, Deasi Indriani, menggarisbawahi bahwa relevansi perjuangan Kartini di masa kini terletak pada kekuatan gagasan.
Menurutnya, warisan sejati Kartini bukanlah status sosial, melainkan keberanian intelektual yang melampaui batasan zamannya.
"Keningratan yang substansial tidak lagi diukur dari garis keturunan, melainkan dari kedalaman intelektualitas dan kemuliaan budi pekerti seseorang," ujar Deasi dalam dialog tersebut.
Beliau menambahkan bahwa kemahiran berbahasa merupakan indikator nyata dari tingkat literasi seseorang.
Namun, Deasi juga memberikan catatan kritis mengenai disparitas akses pendidikan yang masih dialami perempuan di wilayah Indonesia Timur, merujuk pada data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
Antara Tradisi dan Transformasi
Perspektif akademis turut memperkuat urgensi literasi ini. Dr. Anna Nurfahana, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Universitas Indraprasta PGRI (Unindra),
memandang bahasa sebagai instrumen keberanian. Beliau merujuk pada korespondensi Kartini yang kemudian dibukukan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai manifestasi literasi tingkat tinggi.
"Kekuatan Kartini tersimpan dalam diksi yang ia pilih bahasa yang tidak hanya sarat akan makna dan pengetahuan, tetapi juga tetap berpijak pada nilai-nilai adab," tutur Anna.
Dalam pandangannya, perguruan tinggi memegang tanggung jawab moral untuk mengasah kompetensi linguistik mahasiswa, terutama perempuan.
Kemampuan komunikasi yang mumpuni dinilai tidak hanya menunjang karier profesional, tetapi juga krusial dalam peran perempuan sebagai pendidik pertama dalam lingkup keluarga.
Sinergi Strategis Media dan Akademisi
Kolaborasi antara TVRI sebagai lembaga penyiaran publik dan Unindra sebagai institusi pendidikan merupakan langkah konkret dalam memerangi degradasi bahasa di ruang digital.
Unindra sendiri telah mengintegrasikan program pengembangan kapasitas, seperti pelatihan public speaking, guna membangun kepercayaan diri mahasiswa dalam berwacana.
Kepala Lembaga Pengembangan Bahasa Unindra, M. Kabul Budiono, menjelaskan bahwa inisiatif Wiwaksa Bastra merupakan bentuk kerja sama strategis untuk membedah tantangan literasi di era digitalisasi yang serba cepat.
Sebagai simbol keberlanjutan estafet pemikiran ini, acara tersebut menampilkan performa dari Duta Bahasa Unindra, Ira dan Rosita, yang membacakan fragmen pemikiran Kartini.
Pesan sentral yang dihasilkan dari forum ini sangat jelas: kemajuan perempuan Indonesia di era digital tidak hanya ditentukan oleh akses teknologi, tetapi oleh ketajaman mereka dalam berpikir, menulis, dan menyuarakan kebenaran melalui bahasa yang bermartabat.
Editor: Redaksi TVRINews





