Toyota Indonesia Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Dongkrak Ekspor

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pelemahan nilai tukar rupiah kerap dipandang sebagai sentimen negatif bagi industri otomotif. Namun, bagi Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), kondisi ini justru membuka peluang yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya di sektor ekspor.

Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menilai depresiasi rupiah seharusnya bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global. Per hari ini, Senin, 20 April 2026, nilai tukar rupiah menyentuh Rp 17.145.

"Sekarang dengan rupiah di kisaran Rp 17.000, Indonesia jadi kompetitif sebagai eksportir. Ini peluang kita,” ujar Bob saat ditemui usai seremoni kolaborasi Toyota Indonesia-CATL di Tangerang, Senin (20/4).

Menurutnya, pelemahan mata uang membuat biaya produksi di dalam negeri relatif lebih murah jika dibandingkan dengan negara lain, sehingga produk Indonesia memiliki keunggulan harga di pasar internasional, semacam 'diskon alami' untuk pembeli luar negeri.

Sebagai bayangan begini, apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, maka barang yang diproduksi di Indonesia yang umumnya dibeli dalam rupiah menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri. Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar manfaat pelemahan rupiah.

Sebaliknya, model yang komponennya sebagian besar masih diimpor jadi kurang diuntungkan karena biaya produksi ikut naik.

Secara historis, tren pelemahan rupiah bukan hal baru. Ia menyebut depresiasi mata uang secara bertahap sudah terjadi sejak lama, bahkan bisa mencapai sekitar 3 hingga 4 persen setiap tahun.

"Jadi kita harus prepare, memang dua tahun terakhir ini sampai 7 persen, tapi di sisi lain dengan rupiah melemah ini kesempatan bagi kita untuk menjadi eksportir," katanya.

Kondisi ini menurutnya harus menjadi dasar bagi pelaku industri untuk menyusun strategi jangka panjang, bukan sekadar merespons situasi jangka pendek. Apalagi, TMMIN sendiri telah lama menjadikan ekspor sebagai salah satu pilar bisnisnya, dengan berbagai model kendaraan yang diproduksi di Indonesia untuk pasar global.

"Kita harus lihat orientasinya ke depan jangka panjang. Kalau lihat jangka pendek, yang sudah banyak yang tutup. Pengalaman kita, Toyota menghadapi saat-saat susah seperti 98, kita enggak pernah keluar dari Indonesia. Baru bangun pabrik di Karawang, tiba-tiba terjadi 98. Kita enggak pernah menyatakan keluar dari Indonesia," lanjut Bob.

Menurut Bob, kunci utama agar peluang ini bisa dimanfaatkan terletak pada kesiapan industri dalam negeri, mulai dari kapasitas produksi hingga daya saing produk. Tanpa persiapan yang matang, pelemahan rupiah hanya akan menjadi angka tanpa dampak signifikan terhadap peningkatan ekspor.

“Kalau industrinya kuat, justru ini jadi peluang,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Blokade Kapal Iran di Selat Hormuz, Teheran Bersumpah Akan Membalas
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polri Sebut 65 SPBU Terlibat Penyalahgunaan BBM dan Elpiji Subsidi
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Korban Investasi Kripto Timothy Ronald Datangi PMJ, Ngeluh Laporan Belum Ada Perkembangan
• 5 jam laludisway.id
thumb
Dari Dapur ke Digital: Kartini Masa Kini Didorong Platform Jasa Rumah Tangga
• 5 jam laludisway.id
thumb
MSCI Bekukan Saham RI, BEI: IHSG Malah Naik 8%
• 42 menit laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.