jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Kepala Badan Meteorologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjalin kerja sama guna memperkuat pencegahan terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Kolaborasi itu diperkuat dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan di Kantor BMKG, Jakarta pada Rabu (22/4).
BACA JUGA: Pramono Siapkan Strategi Fiskal di Tengah Isu Geopolitik dan Ancaman El Nino
Menhut Raja Antoni mengatakan tahun ini menjadi tahun latihan untuk mengantisipasi meningkatnya angka karhutla.
Berdasarkan data BMKG, kata dia, El Nino 2026 berpotensi muncul lebih cepat pada semester kedua tahun ini, yakni Juni-Juli, dengan intensitas lemah hingga moderat yang menyebabkan musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan kering.
BACA JUGA: Tips dari Dinkes Jakarta saat El Nino Ekstrem Melanda
“Saya sering sampaikan ini adalah tahun kami latihan belajar untuk mengantisipasi apa yang akan kita hadapi. Untuk tahun ini, sudah disampaikan bahwa kemarau akan datang lebih cepat dari tahun lalu, dan akan berakhir lebih lambat," Menhut Raja Juli seusai penandatanganan MoU.
"Kemudian El Nino lemah sampai moderat artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan terjadinya karhutla tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu,” sambungnya.
BACA JUGA: Menhut Raja Juli Antoni Temui 3 Menteri Jepang Bahas Karbon hingga Komodo
Sekjen PSI itu mengatakan Indonesia merupakan bangsa pembelajar. Itu dibuktikan dengan terus menurunnya angka karhutla.
Dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015, luas karhutla turun menjadi 1,6 juta hektare pada 2019, 1,1 juta hektare pada 2023, hingga sekitar 350 ribu hektare pada tahun lalu.
Menhut mengatakan BMKG menjadi bagian penting dalam penurunan angka karhutla, salah satunya dengan proses Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan.
Dia memastikan koordinasi untuk mencegah terjadinya karhutla terus dilakukan serta dilakukannya pengecekan tinggi muka air tanah.
“BMKG memerankan peran yang sangat penting untuk menurunkan angka karhutla. Dengan tadi memprediksi cuaca yang dengan begitu presisi dengan lebih prediktif, termasuk prevensi atau mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati, mencegah terjadinya karhutla itu jauh lebih baik ketimbang memadamkan ketika apinya sudah berkobar,” ujar Raja Antoni.
Menhut mengaku saat ini sedang berkodinasi dengan berbagai instansi untuk memantau tinggi muka air tanah secara real time.
“Sekarang kami sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi, tinggi muka air tanah kita pantau ketika nanti di bawah 40 cm kita adalah OMC untuk menambah permukaan air tanah, terutama di daerah-daerah gambut kalau sudah menyala sulit padam. Kalau cadangan airnya cukup insyallah tidak akan terjadi kebakaran,” pungkas Menhut Raja Juli. (ddy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menhut Raja Juli: Masalah dari 1983 Diselesaikan di Era Prabowo
Redaktur & Reporter : Dedi Sofian




