Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menargetkan pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mampu mengurangi timbulan sampah hingga 33.000 ton per hari pada 2029.
"PSEL ditargetkan dapat mengurangi timbulan sampah sekitar 33.000 ton per hari (pada 2029) atau setara 22,48 persen dari total timbulan sampah nasional," kata Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Pembangunan PSEL tengah dipercepat oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. PSEL merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah.
Jumlah sampah yang dihasilkan di seluruh Indonesia telah mencapai sekitar 140 ribu ton per hari. Sementara kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) terbatas, demikian juga dengan tingkat pengolahan melalui reduce-reuse-recycle (3R).
Melalui pemanfaatan teknologi termal, seperti insinerasi, kata Qodari, PSEL diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik.
Pembangunan PSEL difokuskan pada wilayah perkotaan dengan timbulan sampah di atas 1.000 ton per hari, dan target pada 2029, PSEL dapat mengurangi timbulan sampah hingga 33.000 ton per hari.
Baca juga: KSP: Pemerintah targetkan mulai bangun lima lokasi PSEL pada Juni 2026
Menurut dia, dengan berkurangnya timbulan sampah, PSEL dapat meningkatkan kesehatan masyarakat karena risiko berbagai penyakit menurun, khususnya di sekitar TPA.
"Dalam jangka panjang, keberadaan PSEL diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah, serta memperkuat peran daerah dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan dan rendah karbon," ucap Qodari.
Dia menambahkan PSEL berpotensi menghasilkan tenaga listrik rata-rata sebesar 25 MW untuk PSEL dengan kapasitas pengolahan sampah 1.000 ton per hari.
"PSEL juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi, antara lain melalui investasi, penciptaan lapangan kerja baru, dan peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi," kata Qodari.
Menurut dia, keberadaan PSEL pun dapat turut mendorong transfer teknologi yang diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengolahan sampah.
Pemerintah menargetkan untuk membangun PSEL di 30 lokasi/aglomerasi di 61 kabupaten/kota di Indonesia.
Target kapasitas input sampah dapat mencapai lebih dari 1.000 ton per hari per lokasi, sehingga total kapasitas pengolahan PSEL mencapai 33.000 ton/hari.
Pada tahap pertama, peletakan batu pertama (groundbreaking) PSEL ditargetkan pada Juni 2026 di lima lokasi, yakni Kota Bekasi, Kota Yogyakarta, Bogor Raya, Denpasar Raya, serta Bandung Raya.
Baca juga: Pemerintah lelang enam proyek PSEL pada semester I 2026
Baca juga: Pemerintah terbitkan Perpres 109/2025 percepat pembangunan PSEL
Baca juga: Soal penanganan sampah, Legislator: Jakarta harus transformasi total
"PSEL ditargetkan dapat mengurangi timbulan sampah sekitar 33.000 ton per hari (pada 2029) atau setara 22,48 persen dari total timbulan sampah nasional," kata Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Pembangunan PSEL tengah dipercepat oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. PSEL merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah.
Jumlah sampah yang dihasilkan di seluruh Indonesia telah mencapai sekitar 140 ribu ton per hari. Sementara kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) terbatas, demikian juga dengan tingkat pengolahan melalui reduce-reuse-recycle (3R).
Melalui pemanfaatan teknologi termal, seperti insinerasi, kata Qodari, PSEL diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik.
Pembangunan PSEL difokuskan pada wilayah perkotaan dengan timbulan sampah di atas 1.000 ton per hari, dan target pada 2029, PSEL dapat mengurangi timbulan sampah hingga 33.000 ton per hari.
Baca juga: KSP: Pemerintah targetkan mulai bangun lima lokasi PSEL pada Juni 2026
Menurut dia, dengan berkurangnya timbulan sampah, PSEL dapat meningkatkan kesehatan masyarakat karena risiko berbagai penyakit menurun, khususnya di sekitar TPA.
"Dalam jangka panjang, keberadaan PSEL diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah, serta memperkuat peran daerah dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan dan rendah karbon," ucap Qodari.
Dia menambahkan PSEL berpotensi menghasilkan tenaga listrik rata-rata sebesar 25 MW untuk PSEL dengan kapasitas pengolahan sampah 1.000 ton per hari.
"PSEL juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi, antara lain melalui investasi, penciptaan lapangan kerja baru, dan peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi," kata Qodari.
Menurut dia, keberadaan PSEL pun dapat turut mendorong transfer teknologi yang diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengolahan sampah.
Pemerintah menargetkan untuk membangun PSEL di 30 lokasi/aglomerasi di 61 kabupaten/kota di Indonesia.
Target kapasitas input sampah dapat mencapai lebih dari 1.000 ton per hari per lokasi, sehingga total kapasitas pengolahan PSEL mencapai 33.000 ton/hari.
Pada tahap pertama, peletakan batu pertama (groundbreaking) PSEL ditargetkan pada Juni 2026 di lima lokasi, yakni Kota Bekasi, Kota Yogyakarta, Bogor Raya, Denpasar Raya, serta Bandung Raya.
Baca juga: Pemerintah lelang enam proyek PSEL pada semester I 2026
Baca juga: Pemerintah terbitkan Perpres 109/2025 percepat pembangunan PSEL
Baca juga: Soal penanganan sampah, Legislator: Jakarta harus transformasi total





