Kabar Merger BDMN dengan MUFG Mencuat, Manajemen Danamon Ungkap Strategi Bisnis

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) buka suara terkait rumor pasar soal akan melakukan penggabungan usaha atau merger dengan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG). MUFG saat ini merupakan pemegang saham terbesar Bank Danamon dengan kepemilikan saham 91,47%. 

Seiring dengan kabar yang beredar saham BDMN ditutup menyentuh batas tertinggi atau auto reject atas (ARA) 25% pada perdagangan saham hari ini, Rabu (22/4). Volume perdagangan tercatat 44,86 juta dengan nilai transaksi Rp 163,60 miliar dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 37,63 triliun. Dalam seminggu terakhir saham BDMN naik 55,24% dan melesat 62,45% dalam enam bulan terakhir. 

Merespons hal itu, Chief Strategy Officer Bank Danamon Indonesia, Reza Iskandar Sardjono, menyatakan pergerakan harga saham Danamon di pasar modal dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran dalam mekanisme pasar. Ia menjelaskan lonjakan saham BDMN seluruhnya berada di luar kendali Danamon. 

Meski begitu, Reza menyatakan tak memiliki hubungan dengan perubahan gerak saham BDMN di pasar. “Kami tidak dapat berkomentar terhadap rumor atau spekulasi,” kata Reza kepada Katadata.co.id, Rabu (22/4). 

Ia juga menyebut Danamon kini berfokus dalam mengelola kegiatan usahanya seiring dengan prioritas strategis perusahaan menjadi penyedia solusi finansial bagi nasabah. Danamon juga berkomitmen untuk terus berkontribusi bagi pertumbuhan industri jasa keuangan dan perekonomian Indonesia. 

Adapun MUFG dikabarkan akan memasukkan asetnya ke dalam BDMN dengan valuasi mencapai Rp 8.000 per saham. Selain itu, beredar pula informasi pengumuman resmi bakal dilakukan pada 12 Mei mendatang.

Apabila skenario penggabungan tersebut terealisasi, entitas hasil merger akan menempatkan MUFG sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset.

Kinerja Tahun Buku 2025

Apabila menilik kinerja keuangan terakhir, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih konsolidasian setelah pajak dan kepentingan minoritas sebesar Rp 4 triliun pada 2025, tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, serta perbaikan biaya kredit (cost of credit) yang turun 10% secara tahunan. 

Chief Financial Officer (CFO) Danamon, Theresia Adriana mengatakan, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) konsolidasian mencapai Rp 9,6 triliun, meningkat 4% secara tahunan. Kinerja tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan operasional yang tetap solid di tengah dinamika industri perbankan. 

Dari sisi profitabilitas, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) konsolidasian tercatat sebesar 7,7%. Perseroan juga menekankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi bisnis. “Ini tercermin pada kualitas aset Danamon yang tetap terjaga dengan baik pada semester kedua tahun 2025,” kata Theresia dalam paparan kinerja keuangan 2025 secara virtual, Kamis (19/2). 

Dia menyebutkan, kualitas aset menunjukkan perbaikan. Rasio loan at risk (LAR) turun 230 basis poin menjadi 8,3%. Sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membaik 20 basis poin menjadi 1,7%. Rasio pencadangan terhadap NPL (NPL coverage) mencapai 280,7%. Sementara cakupan LAR meningkat 560 basis poin menjadi 54,9%.

Likuiditas dan permodalan tetap kuat, tercermin dari liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 158,9%, net stable funding ratio (NSFR) 117,9%, serta rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) konsolidasian sebesar 25,4%. 

Total kredit dan trade finance konsolidasian Danamon mencapai Rp 212,7 triliun hingga 31 Desember 2025, tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit didorong oleh seluruh lini bisnis, mulai dari Enterprise Banking dan Financial Institution, SME Banking, Consumer Banking hingga Adira Finance.

Dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian tumbuh 16% menjadi Rp 176,9 triliun. Simpanan giro dan tabungan atau current account and saving account (CASA) naik 18% secara tahunan menjadi Rp 75,2 triliun. 

Theresia menjelaskan, kinerja keuangan 2025 telah memperhitungkan dampak penggabungan usaha Mandala Finance dan Adira Finance yang berada dalam pengendalian yang sama oleh MUFG sejak 1 April 2024. Karena itu, terdapat perbedaan basis perbandingan dengan laporan keuangan 2024 yang dipublikasikan sebelumnya. 

Jika dampak penggabungan usaha tersebut dikecualikan, total kredit dan trade finance konsolidasian per akhir 2025 tercatat Rp 206,9 triliun, tumbuh 9% secara tahunan. Dana pihak ketiga meningkat 15% menjadi Rp 176,9 triliun. 

Pendapatan operasional konsolidasian mencapai Rp 19,5 triliun atau tumbuh 3% secara tahunan. PPOP tercatat Rp 8,6 triliun, naik 4%, sementara laba bersih setelah pajak sebesar Rp 3,9 triliun atau melonjak 21% dibandingkan tahun sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jenderal Kopassus Paling Ditakuti Ini Tolak Makanan Hotel, Setia pada Bekal Masakan Istri
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Babak Baru Kasus Mantan Polisi Bunuh Kekasih di Indramayu, Dituntut Seumur Hidup 
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Maybank (BNII) Cairkan Dividen Rp580 Miliar Pertengahan April
• 52 menit laluidxchannel.com
thumb
Motor dan Mobil Listrik Kena Pajak Tahunan, Berlaku Kapan?
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Kronologi Ruben Onsu Kena Dugaan Penipuan Rp5,5 Miliar, Awalnya Mau Bisnis Mukena Ramadhan Lalu
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.