Amerika Serikat akan mendorong sekutunya untuk membayar lebih mahal atau menggunakan harga premiun dalam mengimpor mineral kritis selain dari China. Hal ini demi menekan ketergantungan terhadap pasokan dari Beijing.
Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer mengatakan bahwa negara-negara sekutu harus bersedia membayar lebih mahal untuk mendapatkan pasokan mineral kritis di luar dari China.
Baca Juga: Ultimatum Baru Amerika Serikat ke Iran: Damai atau Dihancurkan
"Ada premi yang harus kita bayar, dan saya menyebutnya premi keamanan nasional, dan kita semua akan membayar premi keamanan nasional untuk memiliki rantai pasok yang aman," kata Greer.
Greer menjelaskan bahwa mineral tersebut akan bersumber dari kelompok mitra dagang baru, termasuk negara-negara dari Eropa. Upaya ini merupakan bagian dari strateginya untuk memperkuat pasokan alternatif, terutama untuk mineral tanah jarang yang sangat dibutuhkan dalam industri teknologi dan energi.
Greer juga mengkritik pendekatan negara-negara sekutu yang terlalu fokus pada efisiensi biaya, sehingga menyebabkan ketergantungan tinggi terhadap China.
"Ketika mitra dagang menyampaikan kekhawatiran tentang biaya ekonomi, saya hanya mengatakan: apa yang Anda bicarakan, yaitu efisiensi biaya, inilah alasan kita berada dalam situasi ini," ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri saat ini tengah merancang perjanjian multilateral untuk meningkatkan pasokan mineral kritis dari luar wilayah China. Salah satu opsi yang dibahas adalah penerapan mekanisme harga minimum guna melindungi produsen dari potensi perang harga.
Greer menilai mekanisme ini penting untuk mencegah praktik penurunan harga agresif yang dapat melemahkan industri di luar China.
Mineral kritis seperti rare earth, lithium, dan kobalt menjadi komponen penting dalam berbagai produk seperti baterai kendaraan listrik, teknologi energi terbarukan hingga industri semikonduktor Ketergantungana dalam sektor ini telah menjadi perhatian utama bagi Amerika Serikat.
Washington terus berupaya mendapatkan akses ke cadangan mineral kritis di berbagai wilayah dunia. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun rantai pasok yang lebih aman dan berkelanjutan.
Meski demikian, kebijakan ini berpotensi meningkatkan biaya bagi negara-negara sekutu. Di sisi lain, keputusan tersebut juga mencerminkan pergeseran prioritas dari efisiensi ekonomi menuju keamanan strategis dalam perdagangan global.
Adapun China dan Amerika Serikat diketahui baru-baru ini memiliki hubungan ekonomi dan perdagangan yang terbilang cukup stabil. Bahkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping berniat untuk bertemu di Mei.
Baca Juga: Gaet Investor Global, Purbaya Bakal Terbitkan Panda Bond di China
Kedua ekonomi terbesar di dunia ini telah mencapai situasi stabil di mana keduanya mampu menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan bersama. Washington mampu mengakses logam tanah jarang dari negara tersebut dan mempertahankan tarif yang substansial terhadap barang-barang China.





