Pakar: Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz Ilegal

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian meruncing menyusul klaim sepihak Amerika Serikat (AS) terkait perpanjangan gencatan senjata yang disertai blokade ketat di Selat Hormuz. Menanggapi hal ini, Pakar Strategi Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) sekaligus Alumni US Air War College, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, menilai tindakan Washington tersebut melanggar hukum internasional dan tidak akan efektif melumpuhkan Iran.

Agung Sasongkojati atau yang akrab disapa Pak Saki, menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran terhadap armada AS dan proksinya adalah tindakan bela diri yang sah berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Hal ini merupakan respons atas serangan awal AS yang dinilai ilegal.

Menurutnya, AS menerapkan standar ganda dalam kesepakatan gencatan senjata. Di satu sisi, AS menuntut kelancaran logistik bagi sekutunya, namun di sisi lain, mereka justru memblokade pergerakan ekonomi Iran.

"Iran secara hukum sah menutup Selat Hormuz bagi Amerika dan proksinya. Jika AS menuntut Iran memutuskan hubungan dengan proksinya di Lebanon atau Irak, maka AS pun seharusnya melakukan hal yang sama terhadap pangkalan dan aliansinya di kawasan tersebut," ujar Agung.
  Baca juga:
Puluhan Tanker Terkait Iran Berhasil Hindari Blokade Laut Amerika Serikat
Blokade di Luar Zona Perang: Tindakan 'Bajak Laut'?

Agung juga menyoroti pergeseran taktik AS yang kini mulai menangkapi kapal-kapal kargo terkait Iran di perairan internasional, seperti Samudera Hindia dan Laut Arab. Ia menilai tindakan ini tidak berdasar karena berada di luar area konflik yang disepakati.

Langkah AS menangkapi kapal di laut bebas dengan alasan keamanan nasional dianggap tidak memiliki bukti kuat dan justru menyerupai tindakan perompakan. Taktik ini diduga sengaja dilakukan AS untuk mencari leverage atau daya tawar dalam perundingan, mengingat serangan udara mereka selama ini gagal mengubah dominasi Iran di kawasan.

Ketahanan Logistik Iran di Utara

Meskipun AS berupaya mencekik ekonomi Iran melalui blokade laut di selatan, Agung meyakini Iran memiliki ketahanan logistik yang cukup kuat untuk bertahan setidaknya selama enam bulan ke depan. Hal ini didukung oleh posisi geografis Iran yang memiliki akses strategis di bagian utara.

"Iran tidak sepenuhnya bergantung pada jalur laut selatan. Mereka memiliki akses ke Laut Kaspia yang menghubungkan langsung dengan Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Jalur darat dan air di utara ini memungkinkan Iran untuk tetap mendapatkan pasokan logistik dan makanan meskipun Selat Hormuz bergejolak," ucap mantan penerbang jet F-16 tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jakarta Jadi Tujuan PRT Terbanyak, DPRD DKI Akan Awasi Implementasi UU PPRT
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Harga BBM Setara Pertalite di Tetangga RI Tembus Rp33.000/Liter
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Erick Thohir Tegas Lawan Rasisme di Sepak Bola Indonesia: Prestasi Harus Dibangun dengan Karakter
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Bantuan PKH Sudah Cair? Buruan Cek via HP Sekarang!
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka, seperti di Selat Hormuz
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.