Pantau - Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan percepatan tanam sebagai langkah strategis pemerintah untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim khususnya ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pangan saat memimpin Gerakan Tanam Padi Serentak di 16 provinsi yang dipusatkan di Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batang Hari.
Kegiatan ini dilakukan di lokasi Cetak Sawah Rakyat sebagai upaya mempercepat pemanfaatan lahan pertanian baru sekaligus mendorong peningkatan produksi pangan nasional.
Sudaryono mengungkapkan, "Percepatan tanam menjadi langkah strategis pemerintah untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, terutama ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pangan,".
Target Pemanfaatan Lahan dan Optimalisasi Musim HujanPemerintah menargetkan sekitar 5.000 hektare lahan di Provinsi Jambi dapat segera masuk siklus tanam guna meningkatkan produksi dalam waktu cepat.
Sudaryono mendorong pemerintah daerah untuk memanfaatkan sisa musim hujan sebagai momentum percepatan tanam agar hasil panen bisa lebih maksimal.
Ia mengatakan, "Sekarang momen yang tepat. Mumpung masih ada hujan, kita percepat tanam. Kalau tanam lebih cepat, panen juga lebih cepat. Semakin banyak yang ditanam, semakin besar hasil panen kita,".
Keberhasilan program ini ditegaskan tidak hanya bergantung pada pencetakan lahan, tetapi juga pada pemanfaatan lahan secara langsung dan optimal oleh petani.
Dukungan Teknologi dan Antisipasi KekeringanKementerian Pertanian menurunkan penyuluh, Brigade Pangan, serta dukungan alat dan mesin pertanian untuk mempercepat proses tanam di berbagai daerah.
Percepatan tanam dilakukan melalui mekanisasi modern seperti rice transplanter dan drone guna mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia yang dipimpin Sudaryono turut mendukung optimalisasi penggunaan alat pertanian dalam kegiatan ini.
Sudaryono menegaskan, "Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan, kita pastikan lahan yang sudah dicetak bisa segera ditanami dan memberikan hasil nyata,".
Pemerintah juga memaksimalkan sumber daya air dengan mengidentifikasi sumber air serta menyiapkan pompa, sumur bor, dan pemanfaatan air sungai untuk menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino.
Ia menyampaikan, "Kita identifikasi sumber air, siapkan pompa, sumur bor, dan manfaatkan air sungai agar lahan yang sudah dicetak tetap bisa ditanami,".
Pemanfaatan waktu tanam disebut menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.
Sudaryono menegaskan, "Benih bisa kita bantu, pupuk bisa kita sediakan. Tapi air dan hujan tidak bisa kita datangkan. Jadi manfaatkan waktu yang ada untuk segera tanam,".
Pemerintah juga membuka ruang bagi petani dan pemerintah daerah untuk menyampaikan kebutuhan seperti benih serta alat dan mesin pertanian guna mendukung percepatan tanam.
Dalam kegiatan tersebut, penanaman massal dilakukan bersama petani dan generasi muda Brigade Pangan dengan memanfaatkan teknologi modern.
Sudaryono kembali menegaskan, "Pemanfaatan alat dan mesin pertanian harus dimaksimalkan agar proses tanam lebih cepat dan efisien. Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan, kita pastikan lahan yang sudah dicetak bisa segera ditanami dan memberikan hasil nyata,".




