VIVA –Absennya Mojtaba Khamenei selama lebih dari enam minggu pasca diumumkan sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru disebut sebagai penyebab tertundanya perundingan Amerika Serikat-Iran putaran kedua.
Mengutip sejumlah penasehat utama Donald Trump, CNN Internasional melaporkan bahwa Gedung Putih percaya bahwa absennya Khamenei dalam proses pengambilan keputusan aktif memicu perpecahan di internal kepemimpinan Iran.
Para pemimpin Iran, disebut belum memiliki kesepakatan yang jelas tentang posisi mereka. Termasuk juga tentang seberapa besar wewenang yang diberikan kepada tim negosiator dalam pengambilan keputusan mengenai masa depan program nuklir Tehran.
Salah satu isu krusial dalam perundingan tersebut terkait dengan cadangan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran saat ini. Diperkirakan sebanyak 440 kilogram uranium yang diperkaya 60 persen, sedikit kurang dari ambang batas 90 persen untuk keperluan senjata, namun jumlah ini dinilai cukup untuk membuat 8 hingga 12 bom. Ini menjadi poin penting dalam perundingan di Islamabad dua pekan lalu.
Sebagian dari faktor yang mempersulit tercapainya kesepakatan dalam perundingan itu, menurut Tim Trump, adalah apakah Mojtaba Khamenei memberikan arahan yang jelas kepada bawahannya atau apakah mereka hanya menebak apa yang diinginkannya tanpa instruksi khusus.
Apakah Khamenei Terlibat Aktif dalam Perundingan Ini?
Melansir laman NDTV, Kamis 23 April 2026, direktur proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez berbicara kepada CNN internasional bahwa tampaknya Mojtaba belum dalam kondisi yang benar-benar dapat membuat keputusan penting atau mengendalikan jalannya negosiasi secara detail.
Namun, ia percaya bahwa sistem pemerintahan Iran menggunakannya untuk mendapatkan persetujuan akhir atas keputusan-keputusan besar yang penting dan bukan (untuk) taktik negosiasi.
"Sistem tersebut sengaja menyoroti keterlibatan Mojtaba karena hal itu bisa menjadi pelindung dari kritik internal. Bebeda dengan ayahnya yang secara teratur muncul dan mengomentari terkait perkembangan negosiasi," kata Vaez.
Ia menambahkan bahwa Mojtaba tidak terlihat dalam proses ini sehingga mengaitkan berbagai keputusan kepadanya bisa menjadi cara bagi para negosiator Iran untuk melindungi diri dari kritik.
Terlepas dari tantangan tersebut, seorang pejabat mengatakan kepada CNN bahwa masih ada kemungkinan AS dan Iran akan segera kembali ke meja perundingan. Namun, kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi masih jauh dari kepastian.





